CIDEX SIDE EFFECTS

Cidex, which is also called Glutaraldehyde, is a strong disinfectant used to clean medical instruments. This colorless solution effectively destroys specific types of bacteria, fungi and viruses present on medical instruments. Cidex can also clean certain types of metal and plastic instruments but should not be used to disinfect heat-sensitive medical devices. Health professionals should take care when using Cidex as this strong disinfectant can cause a number of side effects.

SKIN DISCOLORATION OR IRRITATION

Skin exposure to Cidex can result in temporary skin discoloration, explains medical professionals at Johns Hopkins Medical in Baltimore, Maryland. Prolonged or repeated skin contact with Cidex can cause significant irritation and may cause affected skin to appear red, dry, flaky or itchy. By utilizing appropriate protective clothing, such as gloves, while using this disinfectant, users can prevent most side effect. If this disinfectant comes in contact with the skin, the affected skin region users should immediately wash it with water.

EYE IRRITATION

Accidental eye exposure to Cidex can cause severe irritation and inflammation. If this occurs, the affected eye can appear red or bloodshot and may sting or burn. Medical workers should wear protective eye goggles while using this disinfectant to avoid these potentially hazardous side effects. If Cidex comes in contact with the eyes, users should flush the affected eye with large amounts of water for at least 15 minutes. Affected individuals should seek additional medical care immediately to ensure receipt of appropriate care.

CHEMICAL BURNS

If food products become contaminated by Cidex, individuals who consume these foods present a risk of sustaining irritation or chemical burns along the digestive tract. Oral Cidex exposure can lead to sensations of burning or pain inside the mouth, throat or stomach. Individuals who accidentally ingest this disinfectant should drink large amounts of water and seek immediate medical attention for further guidance and care. Self-induced vomiting following Cidex ingestion is not advised, warns Johns Hopkins Medical.

RESPIRATORY TRACT INFLAMMATION

Airborne Cidex can cause respiratory tract side effects in individuals exposed to this disinfectant. Affected individuals may experience unusual sensations of stinging or burning within the nose or throat. Chest discomfort, coughing, difficulty breathing or wheezing may also occur. Individuals with pre-existing lung-related medical conditions, such as asthma or bronchitis, may present an increased risk of experiencing severe respiratory side effects upon exposure to airborne Cidex. It proves important to get affected individuals out of contaminated areas and into an outdoor area with fresh, clean air. Severe respiratory tract irritation can be controlled through oxygen administration and additional medical intervention.

ANATOMI ANOREKTOSIGMOID

Dinding rektum terdiri atas mukosa, submukosa, dan dua Lapisan muskular yang kompleet, yaitu

sirkuler dalam dan longitudinal Luar. Rektum panjang nya sekltar 12 – 15cm, dari kolon sigmoid

sampai saluran anal sepertiga bagian atas rektum di tutupi oleh peritoneum di sebelah anterior dan

lateral. Sepertiga bagian tengah rektum di tutupi oleh peritonieum hanya di permukaan anterior

nya. Dan, sepertiga bawah rektum terletak di bawah refleksi peritoneal. Rektum terdiri atas 3 kurva

yang berbeda. Tiga lipatan ini memproyeksi kan kedalam lumen sebagai klep dari houston.

Lapisan jaringan ikat yang tipis dari waldayer adalah lapisan jaringan ikat tipis rektosakral yang

padat, rnulai dari setinggi sakrum keempat hinnga ke anterior lalu rektum, menutupi sacrum

sebelah anterior ke rektum ekstraperitoneal adalah lapisan jaringan ikat tipis dari

Dennonvillers.Ligmen-ligmen lateral dari lapisan jaringanakat tipis endopelvis menyokong rektum

bagian bawah.

Dasar pelvis adalah lembaran muskulotendinous yang dibentuk oleh otot levator ani dan diinervasi

oleh saraf sakralis keempat.saluran anal mulai dari diafragma pelvis dan berakhir di anal verge,

batas anal adalah hubungan antara anoderm dan kulit perianal.Dentate line adalah hubungan

mukokutaneus, letaknya 1 – 1,5 sentimeter di atas batas anal.

Saluran anal dikelilingi oleh sfingter interna dan eksterna yang bersama-sama merupakan

mekanisme sfingter ani. Otot puborektalis berasal dari pubis dan bergabung ke posterior kerektum;

bila di kontraksi kan secara normal menyebab kan sudut 80 o dari hubungan anorektal.

SUPLAI ARTERI

Cabang terminal dari arteri mesenterika inferior menjadi arteri rektal superior menyilang arteri iliaka

komunis kiri,turun di mesokolon sigmoid dan terbagi dalam dua cabang pada sakrum ketiga.

Cabang kiri dan kanan dari arteri rektal superior menyuplai bagian atas dan tengah rektum.

Arteri rektal media dan inferior menyuplai sepertiga bawah rektum.

Arteri rektal media tampak dari arteri iliaka interna. Melintas jaringan ikat tipis dari denon villers

dan masuk ke anterolateral dari dinding rektum di tigkat cinicin anu rektal. Koloteral berada di

antara arteri rektal superior dan medial. Arteri rektal media perlu untuk menjaga kelangsungan dari

rektum setelah proksimal ligasi dari arteri mesen terika inferior.

Arteri rektal inferior adalah cabang dari arteri pudendal. Merka melewati saluran alcock, dan masuk

ke posterolateral dari fosa izkiorektal. Mereka menyuplai sfingter interna dan extema dan sejajar

dengan saluran anal dan tidak membentuk koral teral dengan arteri rektal lain. Arteri sakral media

timbul di daerah proksimal ke bifurkasio aorta dan menyuplai sedikit darah ke rektum.

ALIRAN VENA

Sejajar dengan suplai arteri dan bermuara di sistem ( caval ) sistemik dan portal. Bagian atas dan

tengah rektum di aliri vena rektal superior, yang masuk ke sistem portal lewat arteri rektal superior

vang masuk kesistem portal lewat vena mesen terika inferior. Bagian bawah dan atas saluran anal

di aliri oleh vena rektal media yang bermuara di vena iliaka interna dan kemudian ke sistem cava.

Vena rektal inferior mengalir kebagian bawah dari saluran anal dan bermuara ke vena pudendal

yang mengalir ke sistem cava lewat vena iliaka interna. Tumor rektum bagian bawah dapat

bermetastase melewati saluran vena ke sistem vena sistemik dan porta.

Ada tiga submukosa kompleks wasir interna vang letak nva di atas dentate line. Pembuluh -

pembuluh vena hemoroid interna kiri lateral, kanan postero lateral bermuara ke vena rektal

superior. Di bawah dentate line pembuluh-pembuluh vena hemoroid ekterna bermuara ke vena

pudendal. Ada hubungan antara pleksus interna dan ekterna.

ALIRAN LIMFA

Aliran limfatik rektal adalah segmental dan sirkumferensial dan mengikuti aliran yang sama dengan

suplai darah arteri. Limfa bagian atas dan tengah rektum mengalir ke nodus mesenterika inferior

bagian bawah relctum mengalir mengikuti arter rektal superior dan masuk ke nodus mesenterika

inferior. Limfa dari bagian bawah rektum juga dapat mengalir di samping sepangjang arteri rektal

inferior dan medial, bagian belakang sepanjang arteri sakral media, atau bagian depan melewati

saluran di septum relctoveksikal atau rekto vaginal saluran-saluran ini bermuara di nodus iliaka

dan kemudian ke nodus Iimfatik periaorta. Limfatik dari saluran anal di atas dentate line mengalir

lewat limfatik rektal superior ke nodus limfatik mesenterika inferior atau ke rateral kenodus limfa

iliaka interna. Di bawah dentate Zine Iimfatik mengalir ke nod us inguinal tapi dapat ke nodus Iimfa

rektal inferior atau superior sama baik nva.

ALIRAN SARAF

Persarafan rektum pada organ urogenital pelvis terdiri dari saraf simpatis dan parasimpatis. Saraf

simpatis dari segmen thorakolulu mnar bagian bawah a. mesenterika inferior ke pleksus

mesenterika inferior. Pembulun-pumbuluh saraf simpatis semata-meta turun ke pleksus

hipogastrik superior vang ber ada di bawah bifur lcasio aorta, vang kemudian membagi dalam dua

cabang. Turun ke bawah pelvis sebagai nervus hipogastrik. Relctum bagian bawah, kandung kemih

dan organ-organ seksual baik pria dan wanita menerima persarafan simpetatik melalui nervus

hipogastrik. Parasimpatis: serat kedua, ketiga dan keempat sakrum dengan nervus hipogastrik

anterior dan lateral rektum membentuk pleksus. pelvis yang berjalan di samping pelvis. Pleksus

periprospatik timbul dari pleksus pelvis. Serat gabungan dari pieksus ini mempersarafi rektum,

sfingter ani intema, prostat, kandung kemih, penis. Saraf pudendal ( sakratis 2,sakralis 3,sakralis 4 )

meneruskan rangsangan sensoris dari penis dan klitoris lewat nervus dorsalis.

Saraf simpatis dan parasimpatis penting untuk ereksi penis. Saraf para simpatis menyebab kan

vase dilatasi dan meningkatkan aliran darah ke korpus kavemosum, menvebab kan ereksi serat-

serat simpatis menyebab kan vase kenstriksi dari pembuluh vena penis dan kemudian

mempertahan kan ereksi saraf – saraf simpatis menyebab kan kontraksi di duktus ejakulasi, vesika

seminals dan prostat dan panting, untuk ejakulasi. Kerusakan pleksus periprostatik dapat terjadi

saat pemotongan rektum. Trauma pada saraf otom plevis menyebabkan di fungsi dari kandung

kemih, impotensi, atau kedua-dua nya.

Sfingter ani interna di persarafi aleh saraf simpatis dan parasimpatis. Keduanva menghambat

sfingter. Sfingter interna secara kontinu menurun ketika tekanan di rektum meningkat. Saat rektum

kosong tekanan sfingter intera meningkat kembali. Sfingter ani eksterna dan muskulus levaturani di

persarafi oleh cabang rektal inferior dari merfus pudendal interna ( sakralis 2, sakralis 3, sakralis 4

), dan cabang perineal dari nervus sakralis 4, setiap tekanan dari rektum menyebabkan relaksasi

dari sfingter intema sfingter ekstema menyebabkan kcntraksi velunter dan berlangsung sekitar

satu menit.

Di bawah dentate line perasaan kulit terhadap panas, dingin, nyeri, dan sentuhan disampaikan

serat aferen dari infrior rektal dan cabang perineal neivus pudendal.Di atas dentate line, sensai

tumpul. Yang di rasakan pada saat mukosa di cubit atau wasir interna diligasi bisa dl antar kan

oleh serat-serat l parasimpatis.

BEBERAPA TERAPI UNTUK PASIEN HEMOROID

HEMOROIDEKTOMI DENGAN STAPLER

Merupakan prosedur yang lebih rumit, dikerjakan dalam anestesi umum maupun regional. Benjolan didorong ke posisi normal di dalam lubang anus. Sebuah jahitan ditempatkan di sekitar lubang anus, dan digunakan untuk menarik jaringan hemoroid ke dalam stapler. Alat stapler ditembakkan dan jaringan hemoroid dibuang,sementara jaringan yang masih tersisa dilekatkan bersama. Hal tersebut menghambat aliran darah ke dalam hemoroid, dan kulit di lubang anus ditarik ke dalam lubang. Metode ini tidak terlalu nyeri karena tidak ada luka operasi yang terbukapada kulit yang sensitif, dan memiliki waktu penyembuhan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan metode konvensional. Sebagian besar pasien, mulai merasa nyaman setelah 1 – 2 minggu pasca operasi, waktu ini jauh lebih pendek jika dibandingkan metode konvensional yang mencapai 4 – 6 minggu.

DEARTERIALISASI HEMOROID TRANS-ANAL (THD)

Dengan metode ini, sebuah alat khusus dimasukkan ke dalam lubang anus ke dalam pembuluh darah yang mensuplai hemoroid, yang diketahui dengan USG Doppler, dan dilakukanpenjahitan. Hal tersebut mengakibatkan terhambatnya aliran darah ke dalam hemoroid. Metode ini sesuai dilakukan jikan hemoroid tidak terlalu besar dan tidak menonjol keluar lubang anus dan disertai perdarahan. Metode ini tidak memerlukan pemotongan jaringan apapun, sehingga nyeri minimal dan pasien dapat kembali beraktifitas pada hari selanjutnya.

LIGASI GELANG ELASTIK (RUBBER-BAND LIGATION)

Ligasi benjolan hemoroid tidak memerlukan rawat inap, dan dapat dikerjakan di klinik tanpa pembiusan (anestesi). Dalam prosedur ini, sebuah gelang elastik kecil diaplikasikan padadasar hemoroid, sehingga aliran darah ke dalam hemoroid berhenti. Hemoroid mengecil dan mati dalam 3 – 5 hari. Hemoroid yang mengecil biasanya lepas bersama dengan proses mengejan atau pengeluaran tinja. Pada umumnya pasien tidak menyadari lepasnya benjolan hemoroid tersebut. Meskipun didapatkan perdarahan ringan pada saat defekasi selama minggu pertama, namun hal tersebut tidak persisten atau masif, karena jaringan parut yang terbentuk mencegah terjadinya perdarahan dan prolaps. Karena prosedur ini hanyadapat mengikat sebagian kecil hemoroid dalam satu waktu, sehinggadalam kasus benjolan hemoroid yang besar diperlukan 2 – 3 kali pengulangan ligasi dengan jarak 6 minggu, untuk mencapai efek yang diharapkan. Sebagian besar pasien dapat kembali beraktifitas sehari setelah prosedur tersebut dilakukan.