LETS GO LEGAL WITH SURGICAL SAFETY CHECKLIST….

Posts tagged “Bencana alam

11 TSUNAMI TERBESAR

Rekam jejak tsunami ternyata sudah terjadi sejak tahun 6.000 Sebelum Masehi. Laman media ilmiah Livescience.com mencatat daftar tsunami maha dahsyat yang pernah terjadi di bumi.

6.000 SM

Gugusan salju besar di Sisilia longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.

1 November 1755

Setelah gempa yang menghancurkan Lisbon, Portugal, dan mengguncang sebagian besar Eropa. Orang-orang banyak yang berlindung di perahu. Namun, tsunami justru terjadi. Tak pelak bencana ini menewaskan lebih dari 60 ribu orang.

27 Agustus 1883

Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, memicu tsunami yang menenggelamkan pesisir Sumatera, Jawa bagian utara, dan Kepulauan Seribu. Kekuatan gelombang bisa menyeret karang seberat 600 ton ke pantai. 36 ribu orang meninggal sia-sia.

15 Juni 1896

Gelombang setinggi 30 meter muncul sesaat setelah terjadi gempa di Jepang. Seluruh pantai timur disapu tsunami itu. 27 ribu orang meninggal.

1 April 1946

Gempa besar di Alaska menimbulkan gelombang besar di Hawaii. Bencana yang sering disebut sebagai misteri “April Fools Tsunami” itu menewaskan 159 orang.

9 Juli 1958

Gempa berkekuatan 8,3 SR di Alaska menyebabkan gelombang besar hingga 576 meter di Teluk Lituya, Alaska. Ini merupakan tsunami terbesar yang tercatat di zaman modern.

Untung saja, tsunami terjadi di tempat terisolir, sehingga tidak menimbulkan banyak korban. Tsunami ini hanya menyebabkan dua nelayan meninggal dunia, karena kapalnya karam diterjang ombak.

22 Mei 1960

Gempa bumi terbesar yang pernah tercatat sebesar 8,6 SR di Chile. Gempa ini menciptakan tsunami yang menghantam Pantai Chile dalam waktu 15 menit. Gelombang tinggi terjadi hingga 25 meter. Tsunami ini menewaskan 1.500 orang di Chile dan Hawaii.

27 Maret 1964

Gempa Alaska “Good Friday” berkekuatan 8,4 SR, menimbulkan gelombang 67 meter di kawasan Valdez Inlet, Alaska. Gelombang dengan kecepatan 640 kilometer per jam ini menewaskan lebih dari 120 orang. Sepuluh orang di antaranya dari Crescent City, California, yang juga mendapat kiriman ombak setinggi 6,3 meter.

23 Agustus 1976

Tsunami di Filipina barat daya menewaskan 8 ribu orang. Gelombang besar ini juga dipicu gempa bumi di sekitar pantai.

17 Juli 1998

Gempa dengan kekuatan 7,1 SR menghasilkan tsunami di Papua Nugini. Gelombang besa dengan cepat membunuh 2.200 orang.

26 Desember 2004

Gempa maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 SR mengguncang di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa paling besar sepanjang 40 tahun terakhir ini menimbulkan gelombang tinggi di Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Setidaknya 320 ribu orang dari delapan negara meninggal dunia. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.

28 Maret 2005

Tiga bulan kemudian tsunami juga terjadi di Sumatera. Gempa di lepas pantai Nias yang berkekuatan 8,7 SR itu memicu tsunami besar yang menewaskan 1.300 orang di Pulau Nias, Sumatera Barat.
sumber :vivanews


Merapi meletus, Mbah Maridjan pun jadi korban.


Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m. Bagi masyarakat di tempat tersebut, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Kini Merapi termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer, karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.
Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni 2006, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik – artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.
1 Juni 2006, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.
8 Juni 2006, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.

20 September 2010, Status Gunung Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada oleh BPPTK Yogyakarta. 21 Oktober 2010, Status berubah menjadi Siaga pada pukul 18.00 WIB. 25 Oktober, BPPTK Yogyakarta meningkatkan status Gunung Merapi menjadi Awas pada pukul 06.00 WIB. 26 Oktober, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Menurut laporan BPPTKA, letusan terjadi sekitar pukul 17.02 WIB. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km. 27 Oktober 2010 pukul 1702 WIB Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus. Seorang bayi berumur 1 tahun meninggal. Mungkin sebelumnnya kita tak menyangka, Mbah Maridjan, pemegang kunci Gunung teraktif ini meninggal dengan posisi bersujud. Di tanggal ini, juga sangat banyak korban yang diakibatkan. Bahkan, warga Boyolali sampai mengungsi jauh.
sumber data : wikipedia


STRESS DISSORDER POST TRAUMA BENCANA

aaaBeberapa waktu yang lalu setelah terjadi gempa yang melanda Jawa Barat, penulis diwawancara oleh Radio Republik Indonesia (RRI) tentang kondisi psikologis korban paska gempa atau bencana. Dalam kesempatan tersebut penulis menyebutkan bahwa penanganan bencana yang banyak terjadi akhir-akhir ini di Indonesia sebaiknya perlu mempertimbangkan penyertaan terapi psikologis terhadap para korban. Tindakan sosial, medis, cultural dan psikologis perlu dilakukan secara terpadu untuk merehabilitasi kondisi fisik dan mental korban..

Dua hari yang lalu tepatnya pada tanggal 30 September 2009 terjadi gempa dahsyat di daerah Padang yang juga dirasakan di Jambi, Riau bahkan sampai dengan Singapore dan Malaysia. Korban meninggal saat ini telah mencapai ratusan orang dan diprediksi akan terus bertambah. Selain itu korban luka parah juga cukup banyak disamping korban yang kehilangan sanak saudara dan kehilangan harta milik mereka. Kondisi ini menimbulkan trauma psikologis yang mendalam yang apabila tidak ditangani secara seksama akan dapat menganggu performa personal dan sosial yang bersangkutan.

Kondisi trauma pasca bencana atau musibah ini dalam terminologi psikologi disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD ini sering ditemukan muncul pada diri korban yang kemudian memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi fisik, mental maupun sosial mereka.

Menurut seorang ahli psikologi Peter Hodgkinson PTSD dapat berupa akibat dari adanya suatu bencana atau musibah, kecelakaan lalu lintas, kekerasan yang terjadi mendadak yang kejadiannya berlangsung cepat dan menimbulkan efek traumatik yang mendalam.

Hampir 75% mereka yang mengalami kejadian yang traumatis seperti bencana alam yang terjadi secara mendadak terkena PTSD. Secara psikologis terapis biasanya berupaya mengkaji pengalaman traumatis yang dialami oleh penderita sebagai dasar untuk menentukan terapi yang tepat.

Berikut ini akan diulas secara ringkas tentang PTSD tersebut yang diawali dengan kajian dampak trauma dan kemudian diakhiri dengan bentuk penanganan psikologisnya.

Dampak Trauma

1. Umumnya 75% korban mengalami trauma. Hampir 25% penderita tidak mengalami suatu reaksi yang khusus.
2. Gejala psikologis yang muncul lebih dari 6 minggu dialami sekitar 25% penderita.
3. Secara signifikan simptom yang menetap membutuhkan penanganan profesional yang umumnya dialami oleh 50% penderita.
4. Setengah dari penderita yang mengalami gejala PTSD dapat berkurang pada tahun pertama.
5. Setengah dari penderita akan mengalami gangguan yang kronis, dapat berlangsung lebih dari 10 tahun jika tidak mendapat penanganan yang semestinya.
6. Sepertiga dari penderita yang mengalami simptom kronis mengalami anxiety dan depresi.

Konsep PTSD pertama kali muncul pada tahun 1980 didalam buku Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorder edisi ketiga dari American Psychiatric Association, namun sekarang muncul DSM versi keempat. Pada dasarnya diagnosis berupaya mengenali berbagai hal yang telah berkembang dalam ribuan tahun berkaitan PTSD.

PTSD memiliki 3 kelompok gejala utama, yaitu:

1. Re-experience phenomena.
2. Avoidance or numbing reaction.
3. Symptoms of increased arousal.

Kriteria

1. Seseorang biasanya mengalami atau dihadapkan pada ancaman yang serius termasuk bencana, kematian, kecelakan luar biasa, ancaman fisik terhadap diri maupun orang lain (APA, 1994).
2. Individu mengalami kondisi ketakutan, tidak berdaya dan selalui dihantui oleh peristiwa tsb. Pada kasus anak sering terjadi perilaku yang disorganized atau agitasi

Jika kedua kriteria tersebut muncul maka dapat dilakukan pengelompokan gejala kedalam tiga gejala utama tadi.

Re-experience Phenomena

1. Munculnya kembali perasaan tertekan atau terancam baik dalam imajinasi, pikiran ataupun persepsi.
2. Munculnya mimpi-mimpi yang menakutkan.
3. Adanya reaksi psikologis yang merupakan simbol/ terkait dengan peristiwa trauma.
4. Adanya reaksi fisik yang merupakan simbol/ terkait dengan peristiwa trauma.

Avoidance or Numbing Phenomena

1. Menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan yang berkaitan dengan peristiwa traumatic.
2. Menghindari kegiatan, tempat atau orang-orang yang terkait dengan trauma.
3. Ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4. Berkurangnya minat atau partisipasi dalam kegiatan yang terkait.
5. Kekakuan perasaan atau ketidakmampuan mengekspresikan perasaan seperti kasih sayang.
6. Kehilangan harapan seperti tidak memiliki minat terhadap karir, perkawinan, keluarga atau kehidupan jangka panjang.

Symptoms of Increased Arousal

1. Kesulitan tidur.
2. Kemarahan yang tidak terkendali.
3. Kesulitan konsentrasi.
4. Hypervigilance (sangat siaga)
5. Respon yang berlebihan (exaggerated)

Durasi & Efek

Gejala dapat berlangsung lebih dari satu bulan dan mengganggu kehidupan sosial, pekerjaan atau bidang kehidupan penting lainnya (APA, 1994).

PTSD dapat muncul bersama gangguan lain seperti kecemasan atau depresi. Disegi lain beberapa klorban tidak memenuhi kriteria PTSD namun sebelumnya memiliki gejala-gejala yang mirip namun terkadang secara alami mereka berangsur pulih

Faktor yg mempengaruhi PTSD :

1. Dimensions of the person
2. Dimensions of the trauma
3. Dimensions of the recovery environment

Dimensions of the person

Hal ini terkait dengan permasalahan kesehatan mental individu sebelumnya, biasa mereka merupakan korban yang utama, kondisi kehidupan sebelumnya, sikap dan keyakinan berkaitan dengan strategi penanganan. Umumnya wanita dan mereka yang berusia setengah baya keatas lebih rentan untuk menderita PTSD.

Dimensions of the trauma

Dimensi ini meliputi lamanya peristiwa tersebut terjadi, apakah ancaman bersifat tunggal atau banyak, dialami sendiri atau melibatkan banyak orang, apakah trauma sering berulang, atau bencana yang terjadi secara berulang.

Dimensions of the recovery environment

Hal ini berkaitan dengan dukungan sosial, stress yang terus menerus, ada tidaknya ritual khusus untuk recovery dan bagaimana sikap masyarakat, kerabat ataupun media terhadap peristiwa yang mereka alami.

PTSD & Trauma

PTSD digambarkan sebagai suatu kelompok simptom namun gagal untuk menjelaskan bagaimana proses trauma dapat terjadi. Ini penting dipahami dalam melakukan terapi. Pengalaman dari sebuah peristiwa traumatik dapat terjadi karena sesuatu yang sangat primitif, global bahkan karena adanya keyakinan positif sebelumnya seperti :

1. Merasa diri tahan banting.
2. Merasa dunia aman, teratur dan dapat diramalkan.
3. Merasa diri sebagai pribadi yang baik.

Namun, pada saat terjadi bencana mereka mengalami suatu goncangan yang luar biasa. Kebanyakan sikap yang muncul adalah negatif. Orang merasa secara sosial tidak diterima, merasa merepotkan orang lain, memperlihatkan kelemahan atau merasa dirinya gila dan kehilangan kendali.

Jika korban melihat dunia dan lingkungannya sebagai sesuatu yang mengkuatirkan dan tidak dapat diramalkan, tindakan yang disertai perasaan negatif tidak akan berguna dan kemudian seseorang mungkin tidak percaya bahwa kasusnya dapat ditangani.

Suatu jaringan memori traumatik kemungkinan terbentuk dan disertai oleh imajinasi yang negatif. Bayangan imajinatif tentang suatu subyek yang kemudian mereka nilai secara negatif, hal ini dapat menimbulkan ingatan tentang peristiwa yang tidak mengenakan. Pada kondisi ini terjadi suatu proses rekognisi, dapat bersifat otomatis atau dilakukan secara sadar.

Pendekatan teori psikologis tentang krisis biasanya akan meramalkan dan memperkirakan tindakan penanganan. Dalam beberapa hal penanganan dihadapkan pada imajinasi yang mengganggu proses psikologi yang efektif. Hal ini dapat berupa ingatan traumatik yang akan menstimuli proses resolusi. Meskipun demikian ada suatu titik transisi pada suatu kondisi kepribadian awal, termasuk cara-cara penanganan yang tradisional. Untuk beberapa hal lainnya tindakan penanganan berkaitan dengan upaya untuk menghindari imajinasi traumatik atau pemicu masalahnya. Saat individu berhasil mengatasi masalahnya dengan cara menghindari imajinasi tersebut. Pendekatan ini sebenarnya memerlukan banyak upaya emosional yang dikerahkan untuk mengatasi hal tersebut.

Intervensi Krisis Paska Trauma

Studi mengenai intervensi krisis mengarahkan kita untuk menyimpulkan bahwa jika prinsip tersebut dilakukan orang-orang akan dapat kembali berfungsi normal secara cepat dan mengurangi kecenderungan berkembangnya masalah dalam waktu lama.

Debriefing psikologis adalah suatu alat yang kelihatannya lebih populer. Hal itu bukan berarti akan menghilangkan sama sekali PSTD, tetapi lebih kearah suatu perangkat untuk melakukan recovery. Ini bukan suatu terapi yang bersifat mandiri tetapi suatu model penyelidikan sendiri (heuristic) dimana individu akan mampu untuk membangun suatu rancangan pengalamannya, suatu kejadian yang diperkirakan dan mampu dikendalikan dan pada akhirnya membuat mereka lebih percaya diri. Ini merupakan prosedur kognitif yang lebih memfokuskan pada pikiran daripada memfokuskan pada stimulasi perasaan dan emosi.

Debriefing umumnya dilakukan dalam kelompok (bisa juga secara individual meskipun tidak sebaik jika dilakukan didalam kelompok), peserta sekitar 15 orang. Waktu ideal pelaksanaan antara 48-72 jam setelah peristiwa traumatik terjadi dan kemudian setelah 3 minggu dilihat apakah masih ada individu yang memerlkukan bantuan secara lebih khusus.

Tujuan debriefing adalah :

1. Merupakan ventilasi impresi, reaksi dan perasaan.
2. Mendorong pengorganisasian kognitif melalui pemahaman yang jernih terhadap peritiwa dan reaksi yang muncul.
3. Mengurangi kesan kekhasan dan abnormalitas reaksi, meningkatkan kesan sesuatu yang normal melalui sharing.
4. Memobilisasi sumber daya didalam dan diluar kelompok , meningkatkan dukungan kelompok, solidaritas dan kohesivitas.
5. Mempersiapkan suatu tindakan yang lebih terkendali dalam merepon peristiwa traumatik yang terjadi.
6. Mengidentifikasi kemungkinan tindakan bantuan profesional lebih lanjut.

Dalam prakteknya debriefing memiliki empat fase identifikasi yaitu :

1. Introduction
2. Narrative
3. Reactions
4. Education

Introduction merupakan kegiatan untuk mengkomunikasikan agenda yang akan dilakukan dan menetapkan aturan main yang berlaku.

Narrative adalah menceritakan pengalaman individu kepada anggota kelompok, mengumpulkan fakta-fakta yang terjadi, ini merupakan tahap pertama dari pengorganisasian kognitif.

Reactions merupakan suatu struktur kronologis yg simpel yg memungkinkan gejala ditransformasikan kedalam bentuk pola umum reaksi baik pikiran maupun emosi. Tahap-tahap reaksi tsb adalah sbb :

1. Reaksi selama insiden terjadi.
2. Reaksi segera setelah peristiwa terjadi.
3. Reaksi awal dari keluarga atau figur yg signifikan.
4. Secara pada hari berikutnya
5. Reaksi pada hari berikutnya dan pada hari-hari tertentu.

Education

Gambaran reaksi simptom PTSD dapat diperkuat penjelasannya melalui literatur. Ini akan membantu penderita untuk melihat permasalahannya secara lebih jelas dan objektif. Hal ini disertai pula dengan membuat perencanaan kedepan untuk membentuk respon dan penghayatan yang lebih baik. Tindak lanjut biasanya dilakukan dengan struktur yang lebih minim, dilengkapi dengan upaya untuk mencatat recovery dan mengatasi kesulitan yang mungkin muncul.

Sangat sedikit penelitian mengenai efektivitas debriefing. Beberapa studi menunjukkan tidak ada dampak tertentu, sedangkan beberapa yang lainnya menunjukkan efek yang positif. Untuk itu agar debriefing efektif maka perlu diperhatikan hal-hal sbb :

1. Debriefing harus dilaksanakan sebagai bagian dari program intervensi krisis yang menyeluruh dan harus disertai dengan tindak lanjut.
2. Debriefing harus dilakukan secara cermat dan membutuhkan partisipasi penuh dari anggota kelompok.
3. Harus dipandu oleh ahli yang berpengalaman yang memfokuskan pada aspek kognisi dan edukasi.
4. Jangan dilakukan terlalu awal tetapi paling cepat 48 jam setelah peristiwa terjadi.
5. Dilakukan setidaknya selama 90 menit.
6. Dilihat sebagai suatu bagian dari proses assessment untuk mengidentifikasi individu yang memiliki resiko tinggi dan perlu penanganan individual yg lebih spesifik.

Pada situasi dimana peristiwa traumatik terjadi dan ditangani misalnya dengan pertolongan darurat tindakan peredaan stress perlu dilakukan sebagai suatu upaya preventif. Hal ini meliputi penjelasan mengenai efek dan simptom dari trauma dan belajar strategi seperti relaksasi maupun bersikap secara positif.

Terapi terhadap Trauma & PTSD

1. Non-specific effects :
· Klien memutuskan untuk mengikuti terapi dengan komitmen.
· Kualitas dari relasi terapis ditentukan oleh sikap yang sesuai dan memahami pengalaman klien, adanya rasa percaya, kompeten dan memiliki kepedulian.

2. Menggunakan keterampilan assessment untuk memutuskan tindakan terapi yang tepat.

3. Technique-specific effects :

· Menggunakan eksposure yg panjang (pembukaan/introduksi)
· Menggunakan tehnik restrukturisasi kognitif.
· Menggunakan tehnik training inoculation stress termasuk edukasi.
· Menggunakan tehnik tambahan seperti medication atau Eye Movement Desensitization & Reprocessing (EMDR). Prosedur terakhir adalah tehnik kognitif untuk melawan memori thd peristiwa traumatik melalui rapid eye movement.

Prolonged Exposure

Kegiatan ini berupa pengungkapan peristiwa kembali dengan melibatkan korban atau klien dalam beberapa sesi. Mengekspos peristiwanya kembali dengan cara menghindari reaksi yang tidak terkendali. Hal ini dapat dilakukan dalam waktu 8-10 sesi. Eksposur perilaku pada situasi yang menakutkan dapat juga digunakan. Kontra indikasi meliputi penyalahgunaan alkohol/drug dan depresi. Saat terapi eksposur merupakan pilihan pertama klien yang mengalami re-experiencing (atau menghindarinya) dan ini merupakan isu besar yang dapat mengarahkan perubahan kognitif, namun hal ini bisa jadi bukanlah terapi yang memadai.

Terapi Kognitif

Selama terapi eksposur berlangsung, terapis harus hadir secara intens untuk menyimak pernyataan dan ekspresi dari korban atau klien terutama terhadap cara berpikir mereka yang menyimpang. Terapis fokus pada pengembangan narasi, pikiran yang bekerja kembali dan penggambaran peristiwa dan reaksi.

Pada tahap awal treatment kognitif difokuskan pada edukasi, memberikan klien suatu pemahaman akan rentang reaksi dan gejala (suatu kerangka yang menempatkan reaksi mereka); dan memunculkan suatu model untuk memahami reaksi paska trauma (dimana metode treatment dapat dibenarkan). Kondisi ini juga dapat memunculkan alternatif narasi.

Pikiran dan keyakinan otomatis yang bersifat negatif harus digali secara aktif. Pikiran dan keyakinanl ini perlu domonitor lebih lanjut oleh terapis.

Selanjutnya perlu dilakukan tehnik training inculation stress dan menggunakan tehnik pertanyaan ala Socrates, alternatif self-statement dan perilaku yang dapat dihasilkan. Hal ini dapat dilatih sebelum terapi sesungguhnya dilaksanakan.

Terapi kognitif dapat berlangsung dalam kelompok untuk lebih menghemat biaya dan waktu. Delapan jam terapi (4 sesi atau lebih) lebih efektif, tetapi terapi yang lebih lama dapat saja dilakukan jika memang dibutuhkan.

Tehnik yang lebih spesifik seperti EMDR dapat pula digunakan. Drugs dalam kondisi darurat dapat digunakan untuk menjaga individu tetap tenang, seperti blockers yang bermanfaat untuk fase awal. Dapat pula digunakan anti-depresan untuk membantu mengatasi munculnya reaksi negatif.

Coda-Counselling & Post-Traumatic Stress

Jika pendekatan debriefing dilakukan disesi awal, konseling apapun dalam post-traumatic stress seharusnya meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Mereview detail peristiwa, mengkonstruksi eksposur yang tepat untuk ditunjukkan.
2. Edukasi
3. Menggunakan tehnik kognitif untuk merestrukturisasi kekeliruan keyakinan dan proses berpikir.

Untuk menjalankan seluruh kegiatan diatas harus dilakukan oleh seorang ahli yang memiliki latar belakang psikologi atau minimal mereka yang telah dibekali oleh orang-orang yang berkompeten.

Penanganan korban paska bencana sebaiknya tidak hanya terbatas pada pertolongan medis yang memang secara fisik sangat terlihat. Disamping upaya medis diperlukan pula penangan secara sosial, kultural, spiritual dan tentunya pendekatan psikologis yang utamanya memfokuskan penanganan terhadap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).