LETS GO LEGAL WITH SURGICAL SAFETY CHECKLIST….

Posts tagged “keperawatan

Sejarah Penggunaan Istilah Ners di Indonesia

Mungkin banyak diantara sejawat perawat yang mengkritik tulisan ini. Disaat semua pada sibuk memperjuangkan tentang Rancangan Undang-Undang Keperawatan (RUU Keperawatan), ini malah membahas hal yang ‘tidak penting’, Tapi tidak masalah sebagai pembelajaran saja.

Istilah Ners pertama kali diberikan oleh para perawat di RS Jantung Harapan Kita pada tahun 1985, saat itu ketua Ikatan Perawat Kardiaovaskuler mengusulkan istilah ini. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi menyepakati setelah mengkaji dan berkonsultasi dengan 2 ahli bahasa saat itu salah satunya adalah Prof. Suherman. Akhirnya disepakati istilah Ners ini sebagai sebutan profesi perawat yang diadopsi dari bahasa Inggris ‘Nurse’ yang di-Indonesia-kan menjadi Ners.

PPNI menolak jika dikatakan penggunaan istilah Ners merupakan keinginan PPNI atau sekelompok orang pendidikan keperawatan karena saat itu selain PPNI masih ada Konsorsium Pendidikan Kesehatan disingkat CHS dan sekarang menjadi Konsorsium Ilmu Kesehatan Indonesia (KIKI).

Dan sejak tahun 1989 sampai sekarang istilah Ners menjadi populer di kalangan perawat dan pendidikan Indonesia. Sejak saat itu disepakati penggunaan istilah Ners. Tapi saat itu tidak dijelaskan apakah yang disebut Ners itu khusus perawat sarjana saja (S.Kp) atau juga perawat diploma. Itu yang tidak saya ketahui dan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut kesepakatan dengan Prof. Suherman tadi istilah Ners sebagai ‘sebutan profesi perawat’, tidak disebutkan sebagai ‘sebutan lulusan sarjana keperawatan (S.Kp)’. Kalau ‘sebagai sebutan profesi perawat’ artinya sebagai sebutan untuk perawat secara umum tidak berdasarkan jenjang pendidikannya. Saat itu pendidikan keprofesian perawat (Ners) belum diterapkan.

Tahun 1985 dimulai pendidikan sarjana keperawatan di PSIK-FKUI, saat itu pendidikan akademik dan keprofesian masih terintegrasi menjadi satu, gelarnya SKp. Setelah tahun 1998 pendidikan akademik dan keprofesian dipisah, gelarnya S.Kep. dan Ns. (HPEQ Dikti, 2012).

Istilah Ners sudah melalui proses yang matang peralihan dari bahasa Inggris ‘Nurse’ menjadi Ners, sayangnya sampai saat ini istilah Ners belum masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia hal ini terkuak pada acara Rapat Dengar Pendapat (RDP) PPNI dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Hadir juga waktu itu dari ahli Bahasa Indonesia dan prinsipnya tidak ada masalah tentang istilah Ners asal semua memang dipahami oleh kalangan profesi perawat.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa PPNI terkesan lambat dan tidak sigap mengantisipasi hal-hal yang sangat prinsip seperti itu. Atau mungkin masalah istilah ini dianggap tidak begitu penting. Padahal sejak tahun 1989 istilah Ners sudah disepakati sebagai sebutan profesi perawat, dan setelah 24 tahun istilah Ners belum juga masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menurut pejabat PPNI, pihak PPNI sudah kembali menulis surat ke lembaga pusat Bahasa Indonesia agar istilah Ners dapat dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tujuannya supaya istilah Ners menjadi kosakata yang legal dalam bahasa Indonesia.

Pembahasan selanjutnya kita sepakati kita pakai acuan gelar S.Kep. dan Ns., bukan S.Kp. Perlu untuk kita ketahui apa definisi kata Ners yang diusulkan PPNI ke lembaga pusat Bahasa Indonesia, apakah definisinya disamakan dengan Perawat atau dibedakan. Hal ini penting karena untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah Ners. Kalau usulannya definisi Ners adalah sebutan untuk seseorang yang lulus pendidikan keprofesian bidang keperawatan, maka hal ini tidak akan menimbulkan kerancuan. Tapi kalau usulannya definisi Ners sama dengan definisi Perawat, maka akan menimbulkan kerancuan dan ‘kecemburuan’. Hal ini bisa terjadi lantaran gelar perawat diploma dibedakan dengan perawat sarjana.

Jika usulannya definisi Ners sama dengan perawat, maka perawat diploma akan protes mengapa gelar mereka Ahli Madya Keperawatan (AMd.Kep) sedangkan perawat sarjana gelarnya bukan S.Kep.Per (Sarjana Keperawatan.Perawat)? Atau jika dibalik mengapa perawat sarjana gelarnya S.Kep. dan Ners, perawat diploma gelarnya bukan AMd.Ners? Kalau artinya sama maka semua perawat apapun jenjang pendidikannya bisa disebut Ners. Perawat diploma disebut Ners Diploma atau Ners Vokasi, perawat sarjana disebut Ners Sarjana atau Ners Profesi. Jika usulannya definisi Ners berbeda dengan perawat, maka perawat diploma tidak akan protes, karena mereka bisa menerima dan memaklumi kalau mereka memang dibedakan dengan Ners.

Membedakan istilah Ners dan Perawat juga mengandung risiko, misalnya sekarang definisi Ners adalah lulusan pendidikan keprofesian di bidang keperawatan; definisi Perawat adalah lulusan pendidikan tinggi keperawatan; dan jika hal ini sudah masuk kamus besar bahasa Indonesia, lalu suatu saat nanti tiba-tiba ada peraturan perundang-undangan baru yang mengharuskan pendidikan akademik dan profesi terintegrasi kembali seperti dulu (S.Kep dan Ns. kembali menjadi S.Kp karena sudah tidak ada pendidikan keprofesian perawat lagi), maka definisi Ners tadi akan direvisi kembali. Lain halnya jika dari awal definisi Ners sama dengan Perawat maka tidak perlu direvisi.

Pergantian peraturan perundang-undangan bukan sesuatu hal yang mustahil karena undang-undang itu sifatnya tidak kekal, bisa direvisi kembali suatu saat nanti tergantung kepentingan penguasa, partai politik, dan perkembangan jaman.

Penulis: Suroso Wibowo (Nurse at RS Penyakit Tropik Infeksi Universitas)


Gambar

TEHNIK CUCI TANGAN (JCI STANDAR)

image


What are the top 10 highest-paying nurse specialties in 2012?

http://scrubsmag.mindovermediallc.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/HighestPayingNurse.jpg


Penerimaan Mahasiswa Baru D4 jalur PPSDM Kemenkes RI tahun 2012

Penerimaan mahasiswa baru PRODI D-IV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI, PRODI D-IV KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (PERIOPERATIF) dan PRODI D-IV KEPERAWATAN ANAK TAHUN AKADEMIK 2012/2013 POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA.

Leaflet dapat diunduh melalui link sebagai berikut:

1. Prodi DIV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI (KAR) (https://www.dropbox.com/s/9fnvv9rrj1o8zpi/D4%20KAR%20April%202012.pdf)

2. Prodi DIV KAnak (https://www.dropbox.com/s/xz1zkz2gce0lak5/D4%20Keperawatan%20Anak%20April%202012.pdf)

3. Prodi DIV KMB (https://www.dropbox.com/s/dpv1x6oh08dccay/D4%20Medikal%20Bedah%20April%202012.pdf)

Keterangan Formulir :

  1. Pendaftaran Sipenmaru Prodi D-IV Keperawatan ini dilaksanakan secara OFF LINE. Berkas    pendaftaran dikirimkan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Tatabumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta.
  2. Untuk pendaftaran Prodi D-IV Keperawatan Anestesi Reanimasi ada 2 kelas:
    • KELAS PUSTANSERDIKJUT (dana TUGAS BELAJAR) pendaftaran melalui Dinas Kesehatan masing-masing dan akan diseleksi oleh Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI.
    • KELAS MANDIRI pendaftaran melalui Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
  3. Informasi selengkapnya & Formulir pendaftaran silahkan klik dan download :

 JADWAL :

  • Pendaftaran : 30 April s.d. 12 Juni 2012.
  • Pengumuman Seleksi Administrasi : 15 Juni 2012
  • Pengambilan Kartu Ujian : 18 – 19 Juni 2012
  • Tes Tertulis : 20 Juni 2012.
  • Pengumuman Uji Tulis : 22 Juni 2012
  • Uji Kesehatan : 25 -28 Juni 2012
  • Pengumuman Hasil Uji Kesehatan : 29 Juni 2012
  • Tes wawancara : 2 Juli 2011
  • Pengumuman Hasil Tes Wawancara : 3 Juli 2012
  • Daftar Ulang : 4 – 6 Juli 2012
  • Pengenalan Program Studi (PPS): 3 – 5 September 2012.
  • Perkuliahan :10 Desember 2012.

Hal-hal yg kurang jelas, dpt ditanyakan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, No. Telp (0274) 617885

Sumber : http://perawatanestesiindonesia.blogspot.com/


Hadirilah seminar online keperawatan

Hadirilah seminar online keperawatan: Teknologi Informasi untuk Perawat: Penggunaan Informasi Tekonologi Untuk Kemajuan Keperawatan Indonesia!

Perkembangan teknologi telah memudahkan layanan dari berbagai industri, termasuk dunia kesehatan. Dengan adanya teknologi informasi yang tidak mengenal jarak, melahirkan berbagai layanan baru dalam bidang keperawatan yang juga dikenal dengan sebutan telenursing.
Telenursing yang merupakan bagian dari telehealth adalah penggunaan telekomunikasi dan teknologi informasi untuk menyediakan pelayanan keperawatan dalam layanan kesehatan dimana terdapat jarak yang cukup jauh antara pasien dan perawat ataupun interaksi dengan berbagai perawat di belahan dunia. Telenursing juga memiliki hubungan dengan aplikasi baik medis atau non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi, telemonitoring, dsb.
Di era sekarang ini, wajib bagi para perawat di Indonesia untuk mengenal lebih dekat lagi mengenai teknologi informasi agar tidak ketinggalan informasi dan kalah saing dengan perawat dari negara lain.
http://www.medicalbutler.com menghadirkan seminar online keperawatan yang akan menjelaskan mengenai teknologi informasi untuk perawat, apa dan bagaimana peran perawat dalam dunia teknologi informasi dan perkembangan telenursing pada:
Hari/tanggal: Kamis, 18 Agustus 2011
Pukul: 14.00-15.00 WIB
Bersama: Eri Yanuar Akhmad B. S., S.Kep, Ns, salah satu staf pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
Hanya dengan menyiapkan komputer/laptop, koneksi internet, headset atau speaker, maka anda telah siap mendengarkan seluruh presentasi dan dialog seminar online secara langsung, dari manapun. Anda pun dapat melayangkan pertanyaan kepada Eri Yanuar di akhir seminar online. Praktis, mudah dan yang terpenting, gratis! Tunggu apa lagi? KLIK DISINI untuk mendaftarkan diri sekarang.

Cara menghadiri webinar/seminar online:

  1. Klik link untuk mendaftar menjadi peserta webinar dan masukkan data diri pada formulir registrasi.
  2. Setelah melengkapi formulir registrasi, link pribadi akan dikirimkan ke email Anda.
  3. 30 menit sebelum webinar dimulai, klik link tersebut untuk memasuki ruang webinar dan ikuti instruksi untuk download software. Nomer ID webinar ini: 337-063-794.
  4. Setelah download berhasil, Anda akan memasuki ruang virtual webinar.
  5. Silakan ajak serta keluarga dan teman untuk menghadiri webinar!

Untuk info lebih lanjut kunjungi www.medicalbutler.com atau email ke info@medicalbutler.com


Registered Nurse?

Banyak teman-teman perawat yang belum begitu paham tentang Registered Nurse (RN)?
RN Adalah perawat yang telah diregistrasi dan secara hukum telah memiliki lisensi untuk praktek keperawatan. Registrasi dan lisensi ini diberikan oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah atau melalui undang-undang. Syarat-syarat untuk dapat diregister mengacu pada pendidikan keperawatan yang diakui.

Apakah sudah ada RN di Indonesia?
Bila merujuk pada definisi umum yang ada diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, setiap perawat yang telah memiliki SIP (surat ijin perawat) adalah RN.

Adakah syarat untuk menjadi RN?
Syarat untuk diregister di indonesia harus telah lulus pendidikan keperawatan yang diakui oleh pemerintah dan asosiasi profesi. Saat ini ada dua katagori perawat lulusan baru, yaitu lulus pendidikan Diploma III atau lulus pendidikan Ners. Kemudian calon memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti bebas dari catatan kriminal dan lulus uji kompetensi profesi.

Adakah Registered Nurse International?
Registrasi berlaku di setiap negara. Tidak ada satu lisensi untuk semua negara. Bila akan menjalankan praktek keperawatan di negara lain, proses pendaftaran (registrasi) untuk bisa menjalankan praktek (lisensi) harus dilakukan di negara tersebut, tapi dipersyaratkan bahwa mereka yang mengajukan untuk diregister di negara lain, harus memiliki register juga di negara asal. Namun beberapa negara memiliki sistem pengakuan mekanisme penapisan, sehingga untuk proses registrasi menjadi lebih mudah.

Bisakah lembaga swasta atau lembaga pelatihan menerbitkan sertifikat RN?
Lembaga swasta atau lembaga pelatihan dapat menerbitkan sertifikat kompetensi untuk kepentingan mereka sendiri (internal). Tetapi, pengakuan terhadap sertifikat tersebut mungkin tidak berlaku bagi pihak lain. Untuk itu, hati-hati terhadap lembaga yang mengatakan bisa menerbitkan sertifikat RN.

Apa peran PPNI dalam sertifikasi kompetensi?
Sebagai organisasi profesi, PPNI membuat berbagai standar kompetensi, kode etik dan juga mengembangkan berbagai instrumen uji profesi dan kompetensi. Instrumen ini diharapkan bisa menjadi penyaring agar perawat yang ter-register nanti benar-benar sesuai standar kompetensi profesi yang diharapkan.

Sumber : http://www.inna-ppni.or.id/


Pengelolaan Pasien di Ruang Pulih Sadar

Pada prinsipnya dalam penatalaksananaan anestesi pada suatu operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi, tahap penatalaksana ananestesi dan pemeliharaan serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasa dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room, yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. (lebih…)


Derita Anak Bangsa Di Perantauan ( Kuwait )

Saya adalah seorang Perawat lulusan dari D III Keperawatan (Akper) Yayasan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya Jawa Barat angkatan tahun 1996-1999. Alhamdulillah Saya telah bekerja di Kuwait sejak bulan oktober tahun 2003 sampai sekarang, saya bekerja sebagai Perawat di salahsatu Rumah Sakit milik Pemerintah, yaitu di Police Health Department tepatnya di Central Prison Hospital. Police Health Department merupakan suatu lembaga dibawah naungan Kementrian Dalam Negeri Kuwait ( Ministry of Interior of Kuwait ) yang membawahi beberapa Klinik dan Rumah Sakit, diantaranya adalah Rumah Sakit tersebut, dimana saya telah/sedang bekerja. (lebih…)


TIFUS ABDOMINALIS

Pengertian

Tifus Abdominalis ( demam tifoid / enteric fever ) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya menyerang saluran pencernaan. Istilah tifoid berasal dari bahasa Inggris, typhoid. Dalam bahasa Yunani, typhos berarti stupor dan eidos berarti bentuk. Istilah tifoid sendiri sebenarnya mengandung arti menyerupai tifus.Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, bercirikan lesi definitif di plak Peyer, kelenjar mesenterika dan limpa, disertai oleh gejala demam yang berkepanjangan, sakit kepala dan nyeri abdomen. (lebih…)


Craniotomy Tray

Additional Trays
Kerrison Rongeurs and Pituitary Forceps Tray

Retractors
2 Army-Navy/(USA), 81/2′′ (lebih…)


What is a Perioperative Nurse

A perioperative nurse is a nurse who works in an emergency operating room. These registered nursing professionals assist surgeons with various tasks while also helping patients to relax and remain comfortable during surgery. A perioperative nurse may also help patients before surgery (pre-operative) and after surgery (post-operative).

When a perioperative nurse is acting as a pre-operative nurse, these individuals are responsible for a number of different things including working with a patient’s family members. Pre-operative nurses must assess each patient, prepare each patient for surgery, and speak with patients regarding any fears or concerns. Once surgery commences, the role of the pre-operative nurse frequently changes to that of a perioperative nurse.

During surgery, two perioperative nurses usually tend to each patient. The “circulating” nurse is responsible for the general safety and well-being of a patient during surgery. This nurse works with the surgeon, anesthesia expert, and the scrub nurse to ensure that all safety procedures are being followed. This perioperative nurse may also be responsible for assisting a surgical team, though circulating nurses do not handle surgical equipment.

The other type of perioperative nurse is referred to as a “scrub” nurse. A scrub nurse acts as a surgical assistant by handing a surgeon specific sterilized tools during an operation. Additionally, the scrub nurse is responsible for making sure that all medical instruments are properly cared for and safe.

Following surgery, perioperative nurses are frequently required to act as post-operative nurses. Immediately after surgery, the post-operative nurse tends to a patient who has just undergone a surgical procedure. During this crucial time, a post-operative nurse’s main responsibility is to ensure the safety and comfort of a patient. Post-operative nurses have extensive training handling post-operative patients.

Clearly, the role of a perioperative nurse is not an easy one. These individuals must be able to perform three complex nursing tasks at all times. Perioperative nurses tend to have extensive specialized training in addition to general nursing training. While this type of profession is complex and difficult, perioperative nurses often enjoy a rewarding career. Anyone wishing to become a perioperative nurse should possess great communication skills along with a general interest in helping others.

A scrub nurse is a specially trained nurse who works with surgeons and the medical team in the operating room. Scrub nurses are extremely valuable members of the surgical team, providing support in the operating room and patient care outside of it as well. This career can be very demanding, but also quite rewarding, and careers in nursing are constantly expanding due to the rising need for these crucial health care professionals. Some scrub nurses even become highly sought after members of surgical teams, especially experienced scrub nurses who are familiar with a wide range of procedures.

Any type of surgery is a complex endeavor, and it requires a large support team of medical professionals to ensure that the surgery runs smoothly. Patients may never meet some of the people involved in their surgeries; the pathologist who analyzes a patient’s blood before surgery, for example, may not meet the patient, but he or she is responsible for ensuring that the patient is healthy enough for a surgical procedure.

Scrub nurses are more formally known as perioperative nurses. Perioperative nursing involves patient care before, during, and after surgery. There are a number of different perioperative nursing positions; the scrub nurse is actually fulled “scrubbed in” for the surgery, meaning that he or she has used special soaps and wears sterile garments so that the nurse can work next to the operative field. A scrub nurse hands instruments to the surgeon and helps to keep an eye on the patient’s condition. Scrub nurses are also familiar with the operation of emergency room equipment.

A circulating nurse, another type of operating room (OR) nurse, works on the perimeter of the operating room, monitoring patient care, ensuring that the room stays sterile, and keeping track of instruments and sponges. Perioperative nurses also help to prepare patients for surgery, and they provide valuable care and monitoring for patients when their surgeries are over. Surgeons may do the cutting, but a scrub nurse is every bit as important.

Circulating nurses are essential members of a surgical team. They are responsible for preparing operating rooms and observing patients during surgeries, alerting doctors if complications arise. Since the job requires extensive knowledge of patient care procedures, a person who wants to become a circulating nurse usually needs to gain several years of experience in other nursing positions to prepare for the responsibilities of the position. In general, a bachelor’s degree, success on a registered nurse licensing exam, and practical training in an emergency room or a critical care unit are needed to become a circulating nurse.

An individual who wants to become a circulating nurse can develop technical and personal skills in a four-year nursing program at an accredited university. Some hospitals and community colleges offer two-year programs to prepare new nurses, but most future circulating nurses choose to pursue bachelor’s degrees to improve their resumes and their understanding of the job. An undergraduate usually takes classes in medical technology, patient care procedures, math, anatomy, and biology. In addition, many schools offer specialized classes in surgical nursing for students who are interested in perioperative and circulating nurse professions.

Nursing students often have the opportunity to work as interns at local hospitals while pursuing their degrees. A person who wants to become a circulating nurse usually has the option to spend most of an internship in surgical settings, observing procedures and learning about the role of perioperative professionals. Upon graduation, he or she can take a national licensing test to earn registered nurse credentials. Since new nurses are in high demand in most regions, entry-level opportunities for recent graduates are typically plentiful.

Most new nurses begin their careers in emergency rooms, ambulatory care units, and general hospitals. A professional who wants to become a circulating nurse can be exposed to many different types of patients and conditions, learning about emergency medical and surgical procedures. He or she can find out about perioperative opportunities by asking practicing nurses and hospital administrators. In many regions, a nurse needs to complete continuing education courses and a certain number of hours of general nursing experience before he or she can join a surgical team.

from : http://www.wisegeek.com


RUU Keperawatan Didesak Jadi Prioritas

Para perawat mendesak agar Rancangan Undang-Undang Keperawatan menjadi prioritas dan dibahas. Rancangan Undang Undang Keperawatan telah masuk pada urutan ke-18 dalam Program Legislasi Nasional 2010. Namun, hingga akhir tahun, Rancangan Undang-Undang Keperawatan belum pernah dibahas.

Ketua Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Dewi Irawati, lewat siaran persnya, mengungkapkan, pengaturan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Keperawatan itu sangat penting bagi kesehatan masyarakat dan para perawat mendesak agar RUU Keperawatan tetap dimasukkan sebagai agenda prioritas dalam Program Legislasi Nasional 2011. Ratusan perawat berdemonstrasi ke DPR untuk meminta agar RUU Keperawatan segera dibahas Senin, 6 Desember 2010.

Guru Besar Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sekaligus mantan Ketua PPNI Prof Achir Yani Syuhaimie Hamid yang memperjuangkan adanya RUU Keperawatan, Selasa (7/12), mengatakan, keperawatan sebagai suatu profesi harus diatur secara utuh. Sekitar 60 persen tenaga kesehatan ialah perawat dan perawat merupakan sebuah profesi.

”Keperawatan tidak dapat diatur hanya sebagai aksesori dalam peraturan terkait tenaga kesehatan, melainkan perlu secara khusus. Pengaturan keperawatan tersebut tidak hanya praktik, tetapi juga pendidikan, penelitian, dan pengembangan keilmuan. Profesi keperawatan berbeda dari tenaga kesehatan lainnya lantaran sudah ada standar praktik, kode etik, dan sistem pendidikan tinggi keperawatan hingga program doktor,” ujarnya.

Dia melihat, para perawat kerap kali terpaksa bekerja tanpa dasar hukum. Keberadaan RUU Keperawatan dapat mengatur hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan tertentu.

”Masyarakat sangat rawan oleh intervensi perawat yang tidak teruji kompetensinya. Undang-undang itu dapat diikuti pembentukan konsil yang akan mengatur uji kompetensi, sertifikasi, dan registrasi perawat,” ujarnya.

Dewi menyatakan, ketersediaan perawat yang kompeten dan berdedikasi penting untuk memberikan pelayanan kesehatan esensial hingga ke pelosok daerah terpencil dan perbatasan. Perawat dapat mencegah kematian, menurunkan angka penyakit, dan meminimalkan angka kecacatan. Dalam banyak situasi, terutama di daerah pedesaan dan terpencil, perawat menjadi garda terdepan. (INE)

Sumber : http://health.kompas.com


ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal. ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

ESWL sendiri merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau pemasukan alat kedalam tubuh pasien.Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti diluar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut  (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan, B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara natural bersama air seni

Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agarshock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak.

Sejarah lithotripter

Ide penggunakan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Jerman tercatat sebagai negara yang mempelopori pengembangan ESWL. Pada awalnya riset yang digulirkan hanya ingin mempelajari interaksi antara shock wave denganbiological tissue pada hewan.

Riset ini dilakukan antara tahun 1968 sampai 1971 di Jerman, dilatarbelakangi oleh adanya insiden salah seorang pegawai perusahaanDornier (saat ini perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan pembuat mesin lithotripter) secara tidak sengaja tersengat shock wave pada saat eksperimen.

Salah satu hasil dari riset ini adalah ditemukan bahwa shock wavemengakibatkan efek samping yang rendah pada otot, lemak, dan jaringan sel tubuh, dan bone tissue (jaringan tulang) tidak mengalami kerusakan saat dilalui oleh shock wave.

Hasil penelitian ini kemudian membawa lahirnya ide penggunaan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal dari luar tubuh. Pada tahun 1971, Haeusler dan Kiefer telah memulai eksperimen in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal dengan shock wave. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah Jerman secara resmi memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL.

Selanjutnya pada awal tahun 1980 pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan mesin Dornier LithotripterHM1. Sejak saat itu eksperimen lanjutan dilakukan secara intensif denganin-vivo (dilakukan di dalam tubuh) maupun in-vitro. Akhirnya mulai tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulicpiezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat “ledakan” di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakanlithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihat pada Gambar 2.


Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter

Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed, sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wavedari lithotripter ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya, dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh (darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

ESWL di Indonesia

Saat ini penulis belum memiliki data pasti tentang berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang telah melayani prosedur ESWL. Mengingat hargalithotripter yang cukup mahal mungkin hanya rumah sakit besar saja yang telah memiliki alat ini. Mengenai biaya pengobatan dengan ESWL sangat tergantung berapa kali tindakan ESWL yang diperlukan sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal.

Di Amerika, rata-rata pasien menjalani 1.5 kali tindakan ESWL [2] sampai benar-benar bebas dari batu ginjal. Namun jika merujuk pada artikel kesehatan yang menyatakan bahwa untuk sekali tindakan ESWL diperlukan biaya sekitar 4,5 juta rupiah, maka dapat dikatakan bahwa terapi ini selain menawarkan keamanan dan kenyamanan, juga menawarkan biaya pengobatan yang relatif murah.

KEUNTUNGAN ESWL

  1. Tidak invasif (kulit utuh)
  2. Rasa nyeri kalau ada hanya sedikit sekali, sering tak perlu anestesi
  3. Lamanya perawatan pendek atau tak perlu dirawat
  4. Pada residif dapat diulang lagi tanpa kesukaran
  5. Dapat digunakan pada semua usia

SYARAT ESWL

Kesuksesan dari ESWL sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak semua jenis batu dapat dihancurkan dengan metode ini, ukuran, lokasi batu, anatomi ginjal dan kondisi kesehatan pasien juga mempengaruhi. Kandidat yang baik untuk ESWL antara lain :

  1. Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu.
  2. Jenis batu yang mengandung kalsium atau asam urat lebih rapuh dan mudah dipecah.
  3. Lokasi batu di ginjal atau ureter bagian proksimal dan medial.
  4. Tidak adanya obstruksi ginjal
  5. Kondisi kesehatan pasien memenuhi syarat (lihat kontraindikasi ESWL)

KONTRA INDIKASI ESWL

  1. Kehamilan
  2. Koagulopati (gangguan pembekuan darah)
  3. Hipertensi tak terkontrol
  4. Obstruksi saluran kemih distal
  5. Ginjal sudah tidak berfungsi
  6. Adanya infeksi aktif

KOMPLIKASI ESWL

  1. Steinstrasse atau pecahan batu yang tertahan di saluran kemih sehingga menyumbat aliran kemih. Pecahan ini nantinya dapat keluar sendiri atau dibutuhkan tindakan operatif tambahan untuk mengeluarkannya.
  2. Hematom (perdarahan) ringan perirenal
  3. Hematuri (kencing berdarah) akibat pecahan batu yang melukai saluran kemih saat mau dikeluarkan dari tubuh.

PERSIAPAN ESWL

Anda mungkin harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik anda. Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.

ESWL dapat dilakukan kapan saja setelah semua pemeriksaan selesai dan anda memenuhi kriteria. Anda mungkin harus meminum antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam sebelumnya.

Anda dapat meminta sedasi bila anda cemas menunggu saat proses ESWL dilakukan dan yang paling penting adalah hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air sehari.

artikel ini dihimpun dari berbagai sumber


Menyiapkan Perawat yang Siap Berkompetisi di Era Pasar Global

nclex-2
1. Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir ini, pengiriman tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri, khususnya perawat, menjadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai kalangan. Di tengah semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik dari tahun ke tahun1), tentu merupakan hal yang melegakan bahwa perawat dari Indonesia dilaporkan berpeluang bekerja di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Benua Eropa (Inggris, Belanda, Norwegia), Timur Tengah (Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait) dan kawasan Asia Tenggara (Singapura, Malaysia)2-4). Jumlah permintaan berkisar antara 30 orang sampai dengan tidak terbatas5).

Kekurangan perawat di dalam negeri merupakan alasan utama negara-negara tersebut untuk menerima tenaga dari luar negeri. Di AS, misalnya, pada 2005 mengalami kekurangan 150.000 perawat, pada 2010 jumlah tersebut menjadi 275.000, pada 2015 sejumlah 507.000, dan pada 2020 menjadi 808.000 perawat. Namun demikian, kekurangan tersebut tersebut menyebabkan mereka lebih berfokus pada bagaimana menghasilkan perawat yang lebih banyak, bukan untuk mencetak perawat yang berpendidikan lebih baik6).

Di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan kesehatan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang)4). Meskipun jumlah perawat yang bekerja di luar negeri menempati prosentase terbesar dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, masih terdapat beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian dan ditanggulangi mulai dari saat ini.

Tulisan ini mengulas secara singkat tentang persyaratan/ kompetensi yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri, kendala yang muncul dalam proses persiapan pengiriman tenaga perawat Indonesia ke luar negeri, hasil review laporan penelitian tentang perawat yang bekerja di luar negeri dan kemudian penulis mencoba mengidenfikasi peran penting lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia agar dapat mempersiapkan perawat yang siap berkompetisi di era pasar global. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi dan sumbang saran bagi berbagai pihak terkait, terutama bagi lembaga pendidikan keperawatan dan tenaga pendidik perawat di berbagai jenjang pendidikan di tanah air.

2. Persyaratan untuk Bekerja di Luar Negeri Bagi Perawat

Pada umumnya persyaratan yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri adalah lulusan Diploma III Keperawatan dengan dua tahun pengalaman kerja5). Selain itu juga terdapat batasan usia, misalnya untuk dapat bekerja di Uni Emirat Arab atau Kuwait, perawat harus berusia kurang dari 35 tahun. Kemampuan berbahasa Inggris disyaratkan pada beberapa negara seperti Inggris (skor IELTS 6) atau AS (skor TOEFL 540)5,7). Syarat penting lainnya adalah lolos ujian NLEX (National Licence Examination)3).

Melihat persyaratan yang harus dipenuhi tersebut, kita dapat mengasumsikan bahwa tenaga perawat yang bekerja di luar negeri tentu merupakan perawat pilihan dan mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan dalam memberikan perawatan yang berkualitas.

Implikasi dari hal tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Pada satu sisi, perginya perawat yang berkualitas ke luar negeri merupakan suatu keuntungan karena suatu saat mereka akan kembali ke negeri kita dengan memperoleh banyak pengalaman, meningkatnya ketrampilan, dan dapat mengidentifikasi aspek-aspek positif dari negara tempat mereka bekerja. Mereka kemudian dapat menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka peroleh sehingga diharapkan pada akhirnya kualitas keperawatan di Indonesia pun meningkat. (lebih…)


Dimana Perawat Saat Itu…?

sahkan uu keperawatan....!!!!

sahkan uu keperawatan....!!!!

Dimana Perawat Saat Itu…?
Siapun orangnya, akan menjadi bangga menjadi Seorang..Perawat, apabila dia menjadikan Keperawatan ini menjadi kebanggaannya. Sebagaimana dengan Profesi lainnya, tentunya menjalankan Keperawatan ini haruslah dengan Sempurna, apalagi jika dilihat apa yang menjadi wilayah jaminan yang diberikannya.

Sedikit tersentak..ketika media tanah Air menyorot kasus Ibu Prita dengan keluhan yang beliau berikan tentang kualitas layanan yang diperolehnya. Sesuatu yang manusiawi sekali bila rasa kecewa itu dialaminya. kemana harus bertanya?..untuk menjawab selaksa gundah yang ada didalam hati?…mungkin itu yang membuat beliau menuliskan rasa tertuang di emailnya, yang menjadi smirip buku Diary moderen bagi penggunanya. melihat situasi tersebut?

Katanya Perawat 24 jam Ada bersama pasien, memainkan perannya sebagai care giver, pendidik, advocad, kolaborator, fasilitator buat pasien yang dilayaninya. jika memang Kit (perawat) ada buat pasien selama 24 jam…mungkinkah muncul tanya..Kemana harus bertanya…?

Saya teringat pada Salah Seorang Dosen ketika Kuliah KDM I (Kebutuhan Dasar Manusia), beliau terus mengingatkan: sebelum tindakan keperawatan diberikan, harus terlebih dahulu Perawat menjalaskan Prosedur tindakan yang ada, sehingga pasien dan keluarga menjadi tahu dan memahami tindakan tersebut, sehingga aksi/reaksi/interaksi/transaksi yang kooperatif akan terjalin antara pasien dan perawat. jika Sudah melakukan itu selain peran care giver yang terlaksana, perawat juga mampu memainkan perannya sebagi pendidik, bagi pasiennya.

Kembali kepada kasus yang lagi trend ini..
muncul sebuah pertanyaan Kemana Perawat RS tersebut….?
mengapa diam..seribu..bahasa..(Saya tidak pernah melihat, di media Massa), sudah seheboh ini..berita yang ada,!!!

atau…
Perawat tidak tau sama-sekali letak permasalahan yang ada? (Wah…gawat kalau sampai hal ini terjadi…berarti kita tidak 24 jam berada disisi Pasien)

atau…
Perawat lebih baik diam saja..karena Perawat hanya menjalankan order dari Dokter saja? (Ini lebih gawat lagi…tujuan Profesionalisme adalah membangun kemitraan, menghapus kata perhambaan..jika sikap kita seperti ini…kapan tujuan ini tercapai…?)

atau…
Dari pada Ribet..repot..udah..lebih baik diam..saja…menjadi penonton..atas situasi yang ada..(katanya Peran kita Advocad bagi..pasien..Fasilitator..apalagi…) terus kapan kita memainkan peran ini…

atau…
Kita masih..belum percaya diri untuk tampil dimedia massa, bersuara dengan keadaan yang sebenarnya…toh kita juga sudah pernah nampang.. masih ingat:
Ada ribuan, tahun lalu kita berteriak meminta..Undang-undang buat profesi ini diadakan. buat apa kita berteriak..? untuk menjamin..layanan kita?

atau…
Perawat, pura-pura..tidak paham….takut bicara..nanti..dipecat…susah buat melamar kerja…(Waw…Melayani..adalah..dasar profesi kita…mengapa harus takut jika dasar pelayanan yang sudah kita berikan..tepat..menjamin sebuah kualitas…?)

atau…
Perawat..benar-benar..tidak..paham..apa..adanya..(Jika memang ini adanya…mari..teman..temanku,..jangan berpuas diri..dengan keadaan yang ada saat ini. sudah banyak Intitusi Pendidikan, banyak Buku yang siap dibaca, banyak Pelatihan guna peningkatan Potensi diri, banyak mpakar tempat bertanya. Agar semakin terasa warna kita, agar semakin bermakna kehadiran ini, bukan hanya untuk bagian yang terlupakan, hanya sebagi pelengkap rutinitas belaka.)

Wah..wah..wah…
Menjadi perenungan kita..bersama..
Dimana Perawat saat itu?…

(By : Oy-Mora. PSIK Universitas Jember)
Sumber : PPNI Pusat Jakarta.

Labels: Opini