Sejarah Penggunaan Istilah Ners di Indonesia

Mungkin banyak diantara sejawat perawat yang mengkritik tulisan ini. Disaat semua pada sibuk memperjuangkan tentang Rancangan Undang-Undang Keperawatan (RUU Keperawatan), ini malah membahas hal yang ‘tidak penting’, Tapi tidak masalah sebagai pembelajaran saja.

Istilah Ners pertama kali diberikan oleh para perawat di RS Jantung Harapan Kita pada tahun 1985, saat itu ketua Ikatan Perawat Kardiaovaskuler mengusulkan istilah ini. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi menyepakati setelah mengkaji dan berkonsultasi dengan 2 ahli bahasa saat itu salah satunya adalah Prof. Suherman. Akhirnya disepakati istilah Ners ini sebagai sebutan profesi perawat yang diadopsi dari bahasa Inggris ‘Nurse’ yang di-Indonesia-kan menjadi Ners.

PPNI menolak jika dikatakan penggunaan istilah Ners merupakan keinginan PPNI atau sekelompok orang pendidikan keperawatan karena saat itu selain PPNI masih ada Konsorsium Pendidikan Kesehatan disingkat CHS dan sekarang menjadi Konsorsium Ilmu Kesehatan Indonesia (KIKI).

Dan sejak tahun 1989 sampai sekarang istilah Ners menjadi populer di kalangan perawat dan pendidikan Indonesia. Sejak saat itu disepakati penggunaan istilah Ners. Tapi saat itu tidak dijelaskan apakah yang disebut Ners itu khusus perawat sarjana saja (S.Kp) atau juga perawat diploma. Itu yang tidak saya ketahui dan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut kesepakatan dengan Prof. Suherman tadi istilah Ners sebagai ‘sebutan profesi perawat’, tidak disebutkan sebagai ‘sebutan lulusan sarjana keperawatan (S.Kp)’. Kalau ‘sebagai sebutan profesi perawat’ artinya sebagai sebutan untuk perawat secara umum tidak berdasarkan jenjang pendidikannya. Saat itu pendidikan keprofesian perawat (Ners) belum diterapkan.

Tahun 1985 dimulai pendidikan sarjana keperawatan di PSIK-FKUI, saat itu pendidikan akademik dan keprofesian masih terintegrasi menjadi satu, gelarnya SKp. Setelah tahun 1998 pendidikan akademik dan keprofesian dipisah, gelarnya S.Kep. dan Ns. (HPEQ Dikti, 2012).

Istilah Ners sudah melalui proses yang matang peralihan dari bahasa Inggris ‘Nurse’ menjadi Ners, sayangnya sampai saat ini istilah Ners belum masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia hal ini terkuak pada acara Rapat Dengar Pendapat (RDP) PPNI dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Hadir juga waktu itu dari ahli Bahasa Indonesia dan prinsipnya tidak ada masalah tentang istilah Ners asal semua memang dipahami oleh kalangan profesi perawat.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa PPNI terkesan lambat dan tidak sigap mengantisipasi hal-hal yang sangat prinsip seperti itu. Atau mungkin masalah istilah ini dianggap tidak begitu penting. Padahal sejak tahun 1989 istilah Ners sudah disepakati sebagai sebutan profesi perawat, dan setelah 24 tahun istilah Ners belum juga masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menurut pejabat PPNI, pihak PPNI sudah kembali menulis surat ke lembaga pusat Bahasa Indonesia agar istilah Ners dapat dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tujuannya supaya istilah Ners menjadi kosakata yang legal dalam bahasa Indonesia.

Pembahasan selanjutnya kita sepakati kita pakai acuan gelar S.Kep. dan Ns., bukan S.Kp. Perlu untuk kita ketahui apa definisi kata Ners yang diusulkan PPNI ke lembaga pusat Bahasa Indonesia, apakah definisinya disamakan dengan Perawat atau dibedakan. Hal ini penting karena untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah Ners. Kalau usulannya definisi Ners adalah sebutan untuk seseorang yang lulus pendidikan keprofesian bidang keperawatan, maka hal ini tidak akan menimbulkan kerancuan. Tapi kalau usulannya definisi Ners sama dengan definisi Perawat, maka akan menimbulkan kerancuan dan ‘kecemburuan’. Hal ini bisa terjadi lantaran gelar perawat diploma dibedakan dengan perawat sarjana.

Jika usulannya definisi Ners sama dengan perawat, maka perawat diploma akan protes mengapa gelar mereka Ahli Madya Keperawatan (AMd.Kep) sedangkan perawat sarjana gelarnya bukan S.Kep.Per (Sarjana Keperawatan.Perawat)? Atau jika dibalik mengapa perawat sarjana gelarnya S.Kep. dan Ners, perawat diploma gelarnya bukan AMd.Ners? Kalau artinya sama maka semua perawat apapun jenjang pendidikannya bisa disebut Ners. Perawat diploma disebut Ners Diploma atau Ners Vokasi, perawat sarjana disebut Ners Sarjana atau Ners Profesi. Jika usulannya definisi Ners berbeda dengan perawat, maka perawat diploma tidak akan protes, karena mereka bisa menerima dan memaklumi kalau mereka memang dibedakan dengan Ners.

Membedakan istilah Ners dan Perawat juga mengandung risiko, misalnya sekarang definisi Ners adalah lulusan pendidikan keprofesian di bidang keperawatan; definisi Perawat adalah lulusan pendidikan tinggi keperawatan; dan jika hal ini sudah masuk kamus besar bahasa Indonesia, lalu suatu saat nanti tiba-tiba ada peraturan perundang-undangan baru yang mengharuskan pendidikan akademik dan profesi terintegrasi kembali seperti dulu (S.Kep dan Ns. kembali menjadi S.Kp karena sudah tidak ada pendidikan keprofesian perawat lagi), maka definisi Ners tadi akan direvisi kembali. Lain halnya jika dari awal definisi Ners sama dengan Perawat maka tidak perlu direvisi.

Pergantian peraturan perundang-undangan bukan sesuatu hal yang mustahil karena undang-undang itu sifatnya tidak kekal, bisa direvisi kembali suatu saat nanti tergantung kepentingan penguasa, partai politik, dan perkembangan jaman.

Penulis: Suroso Wibowo (Nurse at RS Penyakit Tropik Infeksi Universitas)

Penerimaan Mahasiswa Baru D4 jalur PPSDM Kemenkes RI tahun 2012

Penerimaan mahasiswa baru PRODI D-IV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI, PRODI D-IV KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (PERIOPERATIF) dan PRODI D-IV KEPERAWATAN ANAK TAHUN AKADEMIK 2012/2013 POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA.

Leaflet dapat diunduh melalui link sebagai berikut:

1. Prodi DIV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI (KAR) (https://www.dropbox.com/s/9fnvv9rrj1o8zpi/D4%20KAR%20April%202012.pdf)

2. Prodi DIV KAnak (https://www.dropbox.com/s/xz1zkz2gce0lak5/D4%20Keperawatan%20Anak%20April%202012.pdf)

3. Prodi DIV KMB (https://www.dropbox.com/s/dpv1x6oh08dccay/D4%20Medikal%20Bedah%20April%202012.pdf)

Keterangan Formulir :

  1. Pendaftaran Sipenmaru Prodi D-IV Keperawatan ini dilaksanakan secara OFF LINE. Berkas    pendaftaran dikirimkan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Tatabumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta.
  2. Untuk pendaftaran Prodi D-IV Keperawatan Anestesi Reanimasi ada 2 kelas:
    • KELAS PUSTANSERDIKJUT (dana TUGAS BELAJAR) pendaftaran melalui Dinas Kesehatan masing-masing dan akan diseleksi oleh Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI.
    • KELAS MANDIRI pendaftaran melalui Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
  3. Informasi selengkapnya & Formulir pendaftaran silahkan klik dan download :

 JADWAL :

  • Pendaftaran : 30 April s.d. 12 Juni 2012.
  • Pengumuman Seleksi Administrasi : 15 Juni 2012
  • Pengambilan Kartu Ujian : 18 – 19 Juni 2012
  • Tes Tertulis : 20 Juni 2012.
  • Pengumuman Uji Tulis : 22 Juni 2012
  • Uji Kesehatan : 25 -28 Juni 2012
  • Pengumuman Hasil Uji Kesehatan : 29 Juni 2012
  • Tes wawancara : 2 Juli 2011
  • Pengumuman Hasil Tes Wawancara : 3 Juli 2012
  • Daftar Ulang : 4 – 6 Juli 2012
  • Pengenalan Program Studi (PPS): 3 – 5 September 2012.
  • Perkuliahan :10 Desember 2012.

Hal-hal yg kurang jelas, dpt ditanyakan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, No. Telp (0274) 617885

Sumber : http://perawatanestesiindonesia.blogspot.com/

Hadirilah seminar online keperawatan

Hadirilah seminar online keperawatan: Teknologi Informasi untuk Perawat: Penggunaan Informasi Tekonologi Untuk Kemajuan Keperawatan Indonesia!

Perkembangan teknologi telah memudahkan layanan dari berbagai industri, termasuk dunia kesehatan. Dengan adanya teknologi informasi yang tidak mengenal jarak, melahirkan berbagai layanan baru dalam bidang keperawatan yang juga dikenal dengan sebutan telenursing.
Telenursing yang merupakan bagian dari telehealth adalah penggunaan telekomunikasi dan teknologi informasi untuk menyediakan pelayanan keperawatan dalam layanan kesehatan dimana terdapat jarak yang cukup jauh antara pasien dan perawat ataupun interaksi dengan berbagai perawat di belahan dunia. Telenursing juga memiliki hubungan dengan aplikasi baik medis atau non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi, telemonitoring, dsb.
Di era sekarang ini, wajib bagi para perawat di Indonesia untuk mengenal lebih dekat lagi mengenai teknologi informasi agar tidak ketinggalan informasi dan kalah saing dengan perawat dari negara lain.
http://www.medicalbutler.com menghadirkan seminar online keperawatan yang akan menjelaskan mengenai teknologi informasi untuk perawat, apa dan bagaimana peran perawat dalam dunia teknologi informasi dan perkembangan telenursing pada:
Hari/tanggal: Kamis, 18 Agustus 2011
Pukul: 14.00-15.00 WIB
Bersama: Eri Yanuar Akhmad B. S., S.Kep, Ns, salah satu staf pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
Hanya dengan menyiapkan komputer/laptop, koneksi internet, headset atau speaker, maka anda telah siap mendengarkan seluruh presentasi dan dialog seminar online secara langsung, dari manapun. Anda pun dapat melayangkan pertanyaan kepada Eri Yanuar di akhir seminar online. Praktis, mudah dan yang terpenting, gratis! Tunggu apa lagi? KLIK DISINI untuk mendaftarkan diri sekarang.

Cara menghadiri webinar/seminar online:

  1. Klik link untuk mendaftar menjadi peserta webinar dan masukkan data diri pada formulir registrasi.
  2. Setelah melengkapi formulir registrasi, link pribadi akan dikirimkan ke email Anda.
  3. 30 menit sebelum webinar dimulai, klik link tersebut untuk memasuki ruang webinar dan ikuti instruksi untuk download software. Nomer ID webinar ini: 337-063-794.
  4. Setelah download berhasil, Anda akan memasuki ruang virtual webinar.
  5. Silakan ajak serta keluarga dan teman untuk menghadiri webinar!

Untuk info lebih lanjut kunjungi www.medicalbutler.com atau email ke info@medicalbutler.com

Registered Nurse?

Banyak teman-teman perawat yang belum begitu paham tentang Registered Nurse (RN)?
RN Adalah perawat yang telah diregistrasi dan secara hukum telah memiliki lisensi untuk praktek keperawatan. Registrasi dan lisensi ini diberikan oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah atau melalui undang-undang. Syarat-syarat untuk dapat diregister mengacu pada pendidikan keperawatan yang diakui.

Apakah sudah ada RN di Indonesia?
Bila merujuk pada definisi umum yang ada diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, setiap perawat yang telah memiliki SIP (surat ijin perawat) adalah RN.

Adakah syarat untuk menjadi RN?
Syarat untuk diregister di indonesia harus telah lulus pendidikan keperawatan yang diakui oleh pemerintah dan asosiasi profesi. Saat ini ada dua katagori perawat lulusan baru, yaitu lulus pendidikan Diploma III atau lulus pendidikan Ners. Kemudian calon memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti bebas dari catatan kriminal dan lulus uji kompetensi profesi.

Adakah Registered Nurse International?
Registrasi berlaku di setiap negara. Tidak ada satu lisensi untuk semua negara. Bila akan menjalankan praktek keperawatan di negara lain, proses pendaftaran (registrasi) untuk bisa menjalankan praktek (lisensi) harus dilakukan di negara tersebut, tapi dipersyaratkan bahwa mereka yang mengajukan untuk diregister di negara lain, harus memiliki register juga di negara asal. Namun beberapa negara memiliki sistem pengakuan mekanisme penapisan, sehingga untuk proses registrasi menjadi lebih mudah.

Bisakah lembaga swasta atau lembaga pelatihan menerbitkan sertifikat RN?
Lembaga swasta atau lembaga pelatihan dapat menerbitkan sertifikat kompetensi untuk kepentingan mereka sendiri (internal). Tetapi, pengakuan terhadap sertifikat tersebut mungkin tidak berlaku bagi pihak lain. Untuk itu, hati-hati terhadap lembaga yang mengatakan bisa menerbitkan sertifikat RN.

Apa peran PPNI dalam sertifikasi kompetensi?
Sebagai organisasi profesi, PPNI membuat berbagai standar kompetensi, kode etik dan juga mengembangkan berbagai instrumen uji profesi dan kompetensi. Instrumen ini diharapkan bisa menjadi penyaring agar perawat yang ter-register nanti benar-benar sesuai standar kompetensi profesi yang diharapkan.

Sumber : http://www.inna-ppni.or.id/

Pengelolaan Pasien di Ruang Pulih Sadar

Pada prinsipnya dalam penatalaksananaan anestesi pada suatu operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi, tahap penatalaksana ananestesi dan pemeliharaan serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasa dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room, yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. Baca lebih lanjut