Safe Surgery Saves Lives

Komplikasi dan kematian akibat pembedahan menjadi salah satu masalah kesehatan global. World
Health Organization (WHO) memperkirakan sedikitnya ada setengah juta kematian akibat
pembedahan yang sebenarnya bisa dicegah.1 2 Di Inggris dan Wales, National Patient Safety Agency
(NPSA) melaporkan 127.419 insiden terkait pembedahan pada tahun 2007.3 Di negara bagian
Minnesota, AS, yang hanya berpopulasi kurang dari 2% dari total populasi AS, dilaporkan terjadi 21
operasi pada sisi yang salah hanya dalam satu tahun (Oktober 2007 s/d Oktober 2008).4 Keadaan
sesungguhnya kemungkinan besar lebih parah lagi karena sebagian besar insiden tidak dilaporkan.5
Pada Juni 2008, WHO meluncurkan kampanye “Safe Surgery Saves Lives”. Surgical Safety Checklist
digunakan untuk memastikan bahwa seluruh tim operasi mempunyai pemahaman yang sama
terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan dan kondisi pasiennya, serta memastikan bahwa
intervensi seperti antibiotik profilaksi dan pencegahan deep vein thrombosis sudah diberikan.2
Checklist ini berisi 19 hal yang harus dilakukan dalam tiga tahap, sebelum induksi anesthesia (sign in),
sebelum insisi kulit (time out), dan sebelum pasien meninggalkan kamar operasi (sign out). Hal‐hal
yang tercantum dalam checklist ini harus dikonfirmasikan secara verbal kepada pasien dan anggota
tim operasi.

Kelompok studi WHO Safe Surgery Saves Lives telah mempublikasikan laporan studi ujicoba
checklistdi delapan rumah sakit di enam regio WHO dengan 3733 pasien sebelum dan 3955 pasien
setelah implementasi .6 Setelah ujicoba implementasi checklist, kematian akibat operasi berkurang
47% dan komplikasi berkurang 36%. Penurunan terjadi di kedelapan rumah sakit tempat penelitian
yang mewakili Negara berpendapatan tinggi, sedang, dan rendah. Selain penggunaan checklist,
kelompok studi ini juga melakukan intervensi perkenalan tim operasi, brifing dan de‐brifing. Safety
briefing memungkinkan anggota tim saling memperkenalkan diri dan perannya dalam tim, kondisi
pasien, potensi penyulit yang mungkin muncul, kebutuhan peralatan khusus, posisi pasien, dll. Tanpa
perkenalan yang cukup, tim operasi bisa jadi bekerja tanpa saling mengetahui nama masing‐masing.
Akibatnya, akan sulit bagi anggota tim untuk bertanya, mengingatkan atau memberitahu jika ada
masalah yang terjadi. Meskipun masih banyak dokter dan perawat yang masih menganggap proses ini
tidak penting, tetapi pada kenyataannya brifing berhasil meningkatkan level komunikasi dalam tim,
mengurangi terjadinya error dan keterlambatan yang tidak diharapkan.7 Selain itu, teamwork yang
kurang baik diketahui berhubungan dengan peningkatan komplikasi dan kematian (OR 4.82).8 Pada
penelitian lain, satu tim bedah melaporkan penurunan delay sebesar 82% setelah implementasi
briefing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s