Berbagi ilmu dan pengetahuan itu indah

kamar bedah

Video Jahitan Subcuticular


Taut

TEHNIK MENJAHIT JARINGAN /LUKA OPERASI

http://experianzadoctor.blogspot.com/2011/12/tehnik-menjahit-jaringan.html?m=1


CIDEX SIDE EFFECTS

Cidex, which is also called Glutaraldehyde, is a strong disinfectant used to clean medical instruments. This colorless solution effectively destroys specific types of bacteria, fungi and viruses present on medical instruments. Cidex can also clean certain types of metal and plastic instruments but should not be used to disinfect heat-sensitive medical devices. Health professionals should take care when using Cidex as this strong disinfectant can cause a number of side effects.

SKIN DISCOLORATION OR IRRITATION

Skin exposure to Cidex can result in temporary skin discoloration, explains medical professionals at Johns Hopkins Medical in Baltimore, Maryland. Prolonged or repeated skin contact with Cidex can cause significant irritation and may cause affected skin to appear red, dry, flaky or itchy. By utilizing appropriate protective clothing, such as gloves, while using this disinfectant, users can prevent most side effect. If this disinfectant comes in contact with the skin, the affected skin region users should immediately wash it with water.

EYE IRRITATION

Accidental eye exposure to Cidex can cause severe irritation and inflammation. If this occurs, the affected eye can appear red or bloodshot and may sting or burn. Medical workers should wear protective eye goggles while using this disinfectant to avoid these potentially hazardous side effects. If Cidex comes in contact with the eyes, users should flush the affected eye with large amounts of water for at least 15 minutes. Affected individuals should seek additional medical care immediately to ensure receipt of appropriate care.

CHEMICAL BURNS

If food products become contaminated by Cidex, individuals who consume these foods present a risk of sustaining irritation or chemical burns along the digestive tract. Oral Cidex exposure can lead to sensations of burning or pain inside the mouth, throat or stomach. Individuals who accidentally ingest this disinfectant should drink large amounts of water and seek immediate medical attention for further guidance and care. Self-induced vomiting following Cidex ingestion is not advised, warns Johns Hopkins Medical.

RESPIRATORY TRACT INFLAMMATION

Airborne Cidex can cause respiratory tract side effects in individuals exposed to this disinfectant. Affected individuals may experience unusual sensations of stinging or burning within the nose or throat. Chest discomfort, coughing, difficulty breathing or wheezing may also occur. Individuals with pre-existing lung-related medical conditions, such as asthma or bronchitis, may present an increased risk of experiencing severe respiratory side effects upon exposure to airborne Cidex. It proves important to get affected individuals out of contaminated areas and into an outdoor area with fresh, clean air. Severe respiratory tract irritation can be controlled through oxygen administration and additional medical intervention.


Gambar

TEHNIK CUCI TANGAN (JCI STANDAR)

image


Gambar

KALENDER KEGIATAN HIPKABI 2013

image


ANATOMI ANOREKTOSIGMOID

Dinding rektum terdiri atas mukosa, submukosa, dan dua Lapisan muskular yang kompleet, yaitu

sirkuler dalam dan longitudinal Luar. Rektum panjang nya sekltar 12 – 15cm, dari kolon sigmoid

sampai saluran anal sepertiga bagian atas rektum di tutupi oleh peritoneum di sebelah anterior dan

lateral. Sepertiga bagian tengah rektum di tutupi oleh peritonieum hanya di permukaan anterior

nya. Dan, sepertiga bawah rektum terletak di bawah refleksi peritoneal. Rektum terdiri atas 3 kurva

yang berbeda. Tiga lipatan ini memproyeksi kan kedalam lumen sebagai klep dari houston.

Lapisan jaringan ikat yang tipis dari waldayer adalah lapisan jaringan ikat tipis rektosakral yang

padat, rnulai dari setinggi sakrum keempat hinnga ke anterior lalu rektum, menutupi sacrum

sebelah anterior ke rektum ekstraperitoneal adalah lapisan jaringan ikat tipis dari

Dennonvillers.Ligmen-ligmen lateral dari lapisan jaringanakat tipis endopelvis menyokong rektum

bagian bawah.

Dasar pelvis adalah lembaran muskulotendinous yang dibentuk oleh otot levator ani dan diinervasi

oleh saraf sakralis keempat.saluran anal mulai dari diafragma pelvis dan berakhir di anal verge,

batas anal adalah hubungan antara anoderm dan kulit perianal.Dentate line adalah hubungan

mukokutaneus, letaknya 1 – 1,5 sentimeter di atas batas anal.

Saluran anal dikelilingi oleh sfingter interna dan eksterna yang bersama-sama merupakan

mekanisme sfingter ani. Otot puborektalis berasal dari pubis dan bergabung ke posterior kerektum;

bila di kontraksi kan secara normal menyebab kan sudut 80 o dari hubungan anorektal.

SUPLAI ARTERI

Cabang terminal dari arteri mesenterika inferior menjadi arteri rektal superior menyilang arteri iliaka

komunis kiri,turun di mesokolon sigmoid dan terbagi dalam dua cabang pada sakrum ketiga.

Cabang kiri dan kanan dari arteri rektal superior menyuplai bagian atas dan tengah rektum.

Arteri rektal media dan inferior menyuplai sepertiga bawah rektum.

Arteri rektal media tampak dari arteri iliaka interna. Melintas jaringan ikat tipis dari denon villers

dan masuk ke anterolateral dari dinding rektum di tigkat cinicin anu rektal. Koloteral berada di

antara arteri rektal superior dan medial. Arteri rektal media perlu untuk menjaga kelangsungan dari

rektum setelah proksimal ligasi dari arteri mesen terika inferior.

Arteri rektal inferior adalah cabang dari arteri pudendal. Merka melewati saluran alcock, dan masuk

ke posterolateral dari fosa izkiorektal. Mereka menyuplai sfingter interna dan extema dan sejajar

dengan saluran anal dan tidak membentuk koral teral dengan arteri rektal lain. Arteri sakral media

timbul di daerah proksimal ke bifurkasio aorta dan menyuplai sedikit darah ke rektum.

ALIRAN VENA

Sejajar dengan suplai arteri dan bermuara di sistem ( caval ) sistemik dan portal. Bagian atas dan

tengah rektum di aliri vena rektal superior, yang masuk ke sistem portal lewat arteri rektal superior

vang masuk kesistem portal lewat vena mesen terika inferior. Bagian bawah dan atas saluran anal

di aliri oleh vena rektal media yang bermuara di vena iliaka interna dan kemudian ke sistem cava.

Vena rektal inferior mengalir kebagian bawah dari saluran anal dan bermuara ke vena pudendal

yang mengalir ke sistem cava lewat vena iliaka interna. Tumor rektum bagian bawah dapat

bermetastase melewati saluran vena ke sistem vena sistemik dan porta.

Ada tiga submukosa kompleks wasir interna vang letak nva di atas dentate line. Pembuluh -

pembuluh vena hemoroid interna kiri lateral, kanan postero lateral bermuara ke vena rektal

superior. Di bawah dentate line pembuluh-pembuluh vena hemoroid ekterna bermuara ke vena

pudendal. Ada hubungan antara pleksus interna dan ekterna.

ALIRAN LIMFA

Aliran limfatik rektal adalah segmental dan sirkumferensial dan mengikuti aliran yang sama dengan

suplai darah arteri. Limfa bagian atas dan tengah rektum mengalir ke nodus mesenterika inferior

bagian bawah relctum mengalir mengikuti arter rektal superior dan masuk ke nodus mesenterika

inferior. Limfa dari bagian bawah rektum juga dapat mengalir di samping sepangjang arteri rektal

inferior dan medial, bagian belakang sepanjang arteri sakral media, atau bagian depan melewati

saluran di septum relctoveksikal atau rekto vaginal saluran-saluran ini bermuara di nodus iliaka

dan kemudian ke nodus Iimfatik periaorta. Limfatik dari saluran anal di atas dentate line mengalir

lewat limfatik rektal superior ke nodus limfatik mesenterika inferior atau ke rateral kenodus limfa

iliaka interna. Di bawah dentate Zine Iimfatik mengalir ke nod us inguinal tapi dapat ke nodus Iimfa

rektal inferior atau superior sama baik nva.

ALIRAN SARAF

Persarafan rektum pada organ urogenital pelvis terdiri dari saraf simpatis dan parasimpatis. Saraf

simpatis dari segmen thorakolulu mnar bagian bawah a. mesenterika inferior ke pleksus

mesenterika inferior. Pembulun-pumbuluh saraf simpatis semata-meta turun ke pleksus

hipogastrik superior vang ber ada di bawah bifur lcasio aorta, vang kemudian membagi dalam dua

cabang. Turun ke bawah pelvis sebagai nervus hipogastrik. Relctum bagian bawah, kandung kemih

dan organ-organ seksual baik pria dan wanita menerima persarafan simpetatik melalui nervus

hipogastrik. Parasimpatis: serat kedua, ketiga dan keempat sakrum dengan nervus hipogastrik

anterior dan lateral rektum membentuk pleksus. pelvis yang berjalan di samping pelvis. Pleksus

periprospatik timbul dari pleksus pelvis. Serat gabungan dari pieksus ini mempersarafi rektum,

sfingter ani intema, prostat, kandung kemih, penis. Saraf pudendal ( sakratis 2,sakralis 3,sakralis 4 )

meneruskan rangsangan sensoris dari penis dan klitoris lewat nervus dorsalis.

Saraf simpatis dan parasimpatis penting untuk ereksi penis. Saraf para simpatis menyebab kan

vase dilatasi dan meningkatkan aliran darah ke korpus kavemosum, menvebab kan ereksi serat-

serat simpatis menyebab kan vase kenstriksi dari pembuluh vena penis dan kemudian

mempertahan kan ereksi saraf – saraf simpatis menyebab kan kontraksi di duktus ejakulasi, vesika

seminals dan prostat dan panting, untuk ejakulasi. Kerusakan pleksus periprostatik dapat terjadi

saat pemotongan rektum. Trauma pada saraf otom plevis menyebabkan di fungsi dari kandung

kemih, impotensi, atau kedua-dua nya.

Sfingter ani interna di persarafi aleh saraf simpatis dan parasimpatis. Keduanva menghambat

sfingter. Sfingter interna secara kontinu menurun ketika tekanan di rektum meningkat. Saat rektum

kosong tekanan sfingter intera meningkat kembali. Sfingter ani eksterna dan muskulus levaturani di

persarafi oleh cabang rektal inferior dari merfus pudendal interna ( sakralis 2, sakralis 3, sakralis 4

), dan cabang perineal dari nervus sakralis 4, setiap tekanan dari rektum menyebabkan relaksasi

dari sfingter intema sfingter ekstema menyebabkan kcntraksi velunter dan berlangsung sekitar

satu menit.

Di bawah dentate line perasaan kulit terhadap panas, dingin, nyeri, dan sentuhan disampaikan

serat aferen dari infrior rektal dan cabang perineal neivus pudendal.Di atas dentate line, sensai

tumpul. Yang di rasakan pada saat mukosa di cubit atau wasir interna diligasi bisa dl antar kan

oleh serat-serat l parasimpatis.


BEBERAPA TERAPI UNTUK PASIEN HEMOROID

HEMOROIDEKTOMI DENGAN STAPLER

Merupakan prosedur yang lebih rumit, dikerjakan dalam anestesi umum maupun regional. Benjolan didorong ke posisi normal di dalam lubang anus. Sebuah jahitan ditempatkan di sekitar lubang anus, dan digunakan untuk menarik jaringan hemoroid ke dalam stapler. Alat stapler ditembakkan dan jaringan hemoroid dibuang,sementara jaringan yang masih tersisa dilekatkan bersama. Hal tersebut menghambat aliran darah ke dalam hemoroid, dan kulit di lubang anus ditarik ke dalam lubang. Metode ini tidak terlalu nyeri karena tidak ada luka operasi yang terbukapada kulit yang sensitif, dan memiliki waktu penyembuhan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan metode konvensional. Sebagian besar pasien, mulai merasa nyaman setelah 1 – 2 minggu pasca operasi, waktu ini jauh lebih pendek jika dibandingkan metode konvensional yang mencapai 4 – 6 minggu.

DEARTERIALISASI HEMOROID TRANS-ANAL (THD)

Dengan metode ini, sebuah alat khusus dimasukkan ke dalam lubang anus ke dalam pembuluh darah yang mensuplai hemoroid, yang diketahui dengan USG Doppler, dan dilakukanpenjahitan. Hal tersebut mengakibatkan terhambatnya aliran darah ke dalam hemoroid. Metode ini sesuai dilakukan jikan hemoroid tidak terlalu besar dan tidak menonjol keluar lubang anus dan disertai perdarahan. Metode ini tidak memerlukan pemotongan jaringan apapun, sehingga nyeri minimal dan pasien dapat kembali beraktifitas pada hari selanjutnya.

LIGASI GELANG ELASTIK (RUBBER-BAND LIGATION)

Ligasi benjolan hemoroid tidak memerlukan rawat inap, dan dapat dikerjakan di klinik tanpa pembiusan (anestesi). Dalam prosedur ini, sebuah gelang elastik kecil diaplikasikan padadasar hemoroid, sehingga aliran darah ke dalam hemoroid berhenti. Hemoroid mengecil dan mati dalam 3 – 5 hari. Hemoroid yang mengecil biasanya lepas bersama dengan proses mengejan atau pengeluaran tinja. Pada umumnya pasien tidak menyadari lepasnya benjolan hemoroid tersebut. Meskipun didapatkan perdarahan ringan pada saat defekasi selama minggu pertama, namun hal tersebut tidak persisten atau masif, karena jaringan parut yang terbentuk mencegah terjadinya perdarahan dan prolaps. Karena prosedur ini hanyadapat mengikat sebagian kecil hemoroid dalam satu waktu, sehinggadalam kasus benjolan hemoroid yang besar diperlukan 2 – 3 kali pengulangan ligasi dengan jarak 6 minggu, untuk mencapai efek yang diharapkan. Sebagian besar pasien dapat kembali beraktifitas sehari setelah prosedur tersebut dilakukan.


GRUP KOMUNITAS PERAWAT KAMAR BEDAH

Grup ini merupakan wadah jejaring facebook untuk perawat yang bekerja di ruang operasi (Operating Room), sebagai bagian integral dari Unit Pelayanan Kamar Bedah, sehingga bisa saling share, tukar pengalaman dan informasi.terima kasih!!!

KLIK GAMBAR DIBAWAH UNTUK BERGABUNG

http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/418487_355277164548390_457025085_n.jpg

SELAMAT BERGABUNG

LETS GO LEGAL WITH SURGICAL SAFETY CHECKLIST….
Safe Surgery Saves Lives…


What are the top 10 highest-paying nurse specialties in 2012?

http://scrubsmag.mindovermediallc.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/HighestPayingNurse.jpg


KAMAR OPERASI DOMINAN WARNA HIJAU, MENGAPA?????

oknursePernahkah anda memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh tim bedah di ruang operasi (dokter, perawat, dan staf lainnya)??? Warna pakaian yang dikenakan bukanlah berwarna putih (lazim dipakai di seluruh rumah sakit) melainkan HIJAU, bahkan dibeberapa rumah sakit cat tembok dan  lantai ruang operasi serta duk ( kain untuk operasi pun berwarna HIJAU).

Menurut seorang ahli psikologi, melihat warna HIJAU dapat menyegarkan dan ringan di mata ahli bedah dan tim operasi lainnya (anastesi, assistant, scrub & circulating nurse) dalam melihat benda-benda berwarna merah, termasuk organ-organ tubuh yang berlumuran darah saat pembedahan.

Melihat warna merah terus menerus menyebabkan sinyal warna merah di otak memudar sensifitasnya terhadap variasi warna merah. Alasan lainnya adalah, terus-menerus berfokus pada warna merah akan menyebabkan ilusi nofa berwarna HIJAU pada latar warna berwarna terang atau putih. Ini akan menggangu penglihatan. Jika warna baju ahli bedah berwarna HIJAU, ilusi ini akan memudar dan tidak akan mengganggu penglihatan.

Secara psikologis warna HIJAU juga memberikan efek rasa aman, menyegarkan, menyejukkan, menyeimbangkan emosi dan meredam stres.

Ada sebuah cerita di sebuah rumah sakit pernah mengundang sejumlah pakar untuk memberikan saran bagi warna dinding ruang pasien atau warna dinding rumah sakit, sehingga bisa banyak membantu dalam mengobati mereka. Rumah sakit juga meminta saran tentang warna yang terbaik untuk pakaian pasien.

Sejumlah percobaan telah membuktikan bahwa warna kuning bisa membangkitkan semangat di syaraf pusat. Adapun warna ungu bisa membangkitkan ketenangan;Adapun warna biru, maka orang yang melihatnya akan merasa dingin. Sebaliknya, warna merah maka orang akan merasa panas atau gersang. Dan para pakar tersebut mengatakan bahwa warna yang bisa membangkitkan kebahagiaan, gembira, semangat hidup (bergairah) adalah warna HIJAU.

Di London, Inggris, di kawasan Black Fryer yang dikenal dengan “kawasan bunuh diri” karena mayoritas kejadian bunuh diri banyak terjadi di kawasan ini. Kemudian diadakan perubahan warna dari warna gelap gurun ke warna HIJAU metalik. Dengan hal ini ternyata terjadi penurunan jumlah kejadian bunuh diri dengan sangat signifikan


Penerimaan Mahasiswa Baru D4 jalur PPSDM Kemenkes RI tahun 2012

Penerimaan mahasiswa baru PRODI D-IV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI, PRODI D-IV KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (PERIOPERATIF) dan PRODI D-IV KEPERAWATAN ANAK TAHUN AKADEMIK 2012/2013 POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA.

Leaflet dapat diunduh melalui link sebagai berikut:

1. Prodi DIV KEPERAWATAN ANESTESI REANIMASI (KAR) (https://www.dropbox.com/s/9fnvv9rrj1o8zpi/D4%20KAR%20April%202012.pdf)

2. Prodi DIV KAnak (https://www.dropbox.com/s/xz1zkz2gce0lak5/D4%20Keperawatan%20Anak%20April%202012.pdf)

3. Prodi DIV KMB (https://www.dropbox.com/s/dpv1x6oh08dccay/D4%20Medikal%20Bedah%20April%202012.pdf)

Keterangan Formulir :

  1. Pendaftaran Sipenmaru Prodi D-IV Keperawatan ini dilaksanakan secara OFF LINE. Berkas    pendaftaran dikirimkan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Tatabumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta.
  2. Untuk pendaftaran Prodi D-IV Keperawatan Anestesi Reanimasi ada 2 kelas:
    • KELAS PUSTANSERDIKJUT (dana TUGAS BELAJAR) pendaftaran melalui Dinas Kesehatan masing-masing dan akan diseleksi oleh Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI.
    • KELAS MANDIRI pendaftaran melalui Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
  3. Informasi selengkapnya & Formulir pendaftaran silahkan klik dan download :

 JADWAL :

  • Pendaftaran : 30 April s.d. 12 Juni 2012.
  • Pengumuman Seleksi Administrasi : 15 Juni 2012
  • Pengambilan Kartu Ujian : 18 – 19 Juni 2012
  • Tes Tertulis : 20 Juni 2012.
  • Pengumuman Uji Tulis : 22 Juni 2012
  • Uji Kesehatan : 25 -28 Juni 2012
  • Pengumuman Hasil Uji Kesehatan : 29 Juni 2012
  • Tes wawancara : 2 Juli 2011
  • Pengumuman Hasil Tes Wawancara : 3 Juli 2012
  • Daftar Ulang : 4 – 6 Juli 2012
  • Pengenalan Program Studi (PPS): 3 – 5 September 2012.
  • Perkuliahan :10 Desember 2012.

Hal-hal yg kurang jelas, dpt ditanyakan ke Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, No. Telp (0274) 617885

Sumber : http://perawatanestesiindonesia.blogspot.com/


KONTRASEPSI MANTAP, TUBEKTOMI, VASEKTOMI!!!!

Kontrasepsi mantap atau biasa disebut sterilisasi dapat dibedakan menjadi
dua yaitu tubektomi untuk wanita dan vasektomi untuk pria. Kontrasepsi mantap ini merupakan suatu metode kontrasepsi permanen yang dilakukan terhadap saluran telur wanita (sterilisasi) atau saluran bibit pria (vasektomi) sehingga dapat  enghalangi pertemuan ovum dan sperma dan dapat mencegah terjadinya kehamilan.
Kontrasepsi mantap pada umumnya bersifat permanen walau juga terdapat
beberapa teknik yang memungkinkan rekanalisasi saluran tuba atau vas deferen.
Untuk angka keberhasilan kontrasepsi ini cukup tinggi dan angka kegagalannya
rendah sehingga kontap merupakan salah satu jenis kotrasepsi pilihan.
Tubektomi
Defenisi :
Tubektomi merupakan suatu tindakan memotong atau menutup salura tuba
falopi sehingga memutuskan jalur pertemuan ovum dan sperma.
Indikasi:

(lebih…)


FRAKTUR KLAVIKULA

1. Definisi
Fraktur didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas (kerusakan), biasanya
mendadak, dari setiap struktur yang dihasilkan ketika stress internal, yang
disebabkan oleh beban, melebihi batas kekuatannya. Kompleksitas dan
perpindahan dari fraktur tergantung secara besar pada tenaga yang
terbangun pada struktur mendahului fraktur. Bentuk bidang fraktur (fraktur
transversal, fraktur split, avulsi, impaksi, dsb) berhubungan dengan sifat
beban, yang mana bisa bersifat penekanan, pembengkokan, torsional,
pemotongan, atau setiap kombinasi dari hal-hal tersebut.1
Klavikula adalah satu-satunya tulang penopang yang menghubungkan
tulang belakang ke bahu dan lengan.1,13
Fraktur klavikula atau klavikula yang fraktur adalah tulang kerah yang
rusak.2,11
2. Insiden
Fraktur klavikula adalah salah satu dari fraktur yang paling umum pada
dewasa. Insidensi di negara-negara barat meningkat selama dekade
terakhir bersamaan dengan gaya hidup yang mobile dan energik. Saat ini
insidensi farktur klavikula adalah 50-64/ 100.000 dan berkurang seiring
umur, terutama pada laki-laki.1,2 Fraktur klavikula lebih sering pada lakilaki
(68%) dibandingkan pada wanita (32%) dan pada laki-laki kelompok
umur yang paling signifikan adalah dewasa muda. Sebagian besar fraktur
klavikula terletak pada bagian tengah (81%); sisanya fraktur lateral (17%)
dan medial (2%) yang jauh lebih jarang.3,11
3. Mekanisme cedera
Fraktur klavikula biasanya terjadi mengikuti jatuh pada titik bahu
(misalnya pada pengendara kuda, penjegalan pada sepakbola, atau
bersepeda), atau, karena tabrakan dengan pemain lain pada olahraga yang
memerlukan kontak misalnya rugby atau sepakbola (misalnya tabrakan
‘panggul dan bahu’). Fraktur klavikula dapat juga terjadi setelah jatuh pada
siku atau lengan yang tertarik terlalu kuat. Pada contoh tersebut, gaya
disalurkan melalui bahu ke klavikula dan jika gaya cukup ganas, dapat
menyebabkan kerusakan klavikula.4,5,7,11
Beberapa bayi lahir dengan tulang kerah yang patah selama perjalanan
persalinan.6
4. Klasifikasi
Beberapa usaha telah dilakukan untuk menetukan skem klasifikasi fraktur
klavikula. Sistem klasifikasi yang paling umum adalah dari Allman, di
mana klavikula dibagi menjadi tiga.6 Pada sistem Allman, fraktur grup I
adalah cedera spertiga tengah, fraktur grup II adalah cedera sepertiga
lateral, fraktur grup III adalah cedera sepertiga medial. Skema klasifikasi
ini masih digunakan namun telah direvisi untuk menyertakan banyak
subtipe fraktur klavikula.8,10,14
Neer membuat revisi signifikan terhadap skema klasifikasi Allman.
Fraktur lateral klavikula lebih jauh dibagi ke dalam 3 tipe berdasarkan
lokasi fraktur klavikula sehubungan dengan ligamentum
korakoklavikulare:
◦ Fraktur tipe I terjadi medial terhadap ligamentum korakoklavikulare.
◦ Fraktur tipe II terjadi setinggi ligamentum korakoklavikulare, dengan
trapesoid masih ntak dengan segmen distal.
◦ Cedera tipe III terjadi distal terhadap ligamentum korakoklavikulare
dan memasuki artikulasio akromioklavikulare.8,12
Alasan modifikasi ini adalah bahwa fraktur klavikula lateral bersifat
berbeda begantung pada lokasi tepat dari cedera. Fraktur Neer tipe II lebih
jauh dibagi ke dalam tipe IIA di mana baik ligamentum konoid dan
trapezoid masih melekat pada fragmen distal, dan tipe IIB di mana
ligamentum konoid robek.8
Skema klasifikasi lain telah diusulkan sejak itu; namun, skema klasifikasi
Allman dengan modifikasi Neer adalah yang paling umum digunakan dan
terdaftar secara detail di bawah ini.8
◦ Grup I – fraktur sepertiga tengah
◦ Grup II – fraktur sepertiga distal
▪ Tipe I – perpindahan minimal/ interligamentosa
▪ Tipe II – berpindah karena fraktur medial pada ligamentum
korakoklavikulare
• IIA – Baik konoid maupun trapezoid masih melekat pada
fragmen distal
• IIB – Hanya konoid yang robek atau baik konoid dan trapezoid
robek
▪ Tipe III – fraktur yang melibatkan permukaan artikular
▪ Tipe IV – Ligamen intak pada periosteum dengan perpindahan
fragmen proksimal
▪ Tipe V – kominutif
◦ Grup III – Fraktur sepertiga proksimal
▪ Tipe I – perpindahan minimal
▪ Tipe II – berpindah
▪ Tipe III – intraartikuler
▪ Tipe IV – separasi epifiseal (ditemukun pada pasien umur 25 tahun
dan lebih muda)
▪ Tipe V – kominutif
5. Diagnosis dan Gambaran Klinik
◦ Nyeri, terutama pada gerakan ekstremitas atas
◦ Bengkak
◦ Seringkali setelah bengkak berkurang, fraktur dapat dirasakan melalui
kulit
◦ Nyeri tajam bila ada gerakan yang dilakukan.
◦ Referred pain: sakit yang kabur sampai ekstrem dalam dan sekitar area
klavikula, termasuk otot-otot yang mengelilingi.
◦ Mungkin mual, pusing, dan atau pandangan berkunang-kunang karena
nyeri yang ekstrem11
Belum aada bukti kemungkinan untuk memprediksi posisi dari fraktur
klavikula hanya dari mekanisme cedera.
Pasien dengan fraktur klavikula biasanya memberikan riwayat yang baik
akan kejadian trauma untuk membimbing dokter menetapkan cedera.
Tidak lazim klavikula mengalami fraktur tekanan atau menjadi fraktur
melalui deposit patologis.1
Pasien biasanya datang dengan nyeri dan pergerakan yang berkurang pada
ekstremitas yang terkena. Lengan biasanya dipegang melintang pada dada
dengan ekstremitas yang berlawanan digunakan untuk menopang berat
ekstremitas yang cedera. Biasanya ada deformitas yang nampak.
Penting untuk melakukan pemeriksaan neurovaskular lengkap pada
ekstremitas yang cedera untuk mengidentifikasi setiap cedera neurologis
atau vaskular yang berhubungan.2
Klavikula terletak subkutaneus dan menjadi sangat dekat dengan kulit
membuat fraktur sangat mudah dipalpasi. Bila fraktur secara signifikan
berpindah, dapat menyebabkan tekanan pada kulit yang melingkupi.
Tekanan yang demikian dapat berujung pada kematian kulit pada fraktur.
Bila pada pemeriksaan klinis, ditemukan cedera jaringan lunak yang
signifikan atau memang ditemukan cedera tipe “degloving”, maka
pemeriksa harus mencurigai dan mencari adanya cedera lain yang
berhubungan.
Dada harus diauskultasi dan keberadaan pneumothoraks disingkirkan.
Pasien mungkin juga cedera berlanjut ke kepala, leher, dan torso atas dan
hal-hal itu harus disingkirkan.
Diagnosis
Meskipun pemeriksaan klinis akan memberikan banyak informasi,
radiograf berkualitas baik (x-ray) akan mengkonfirmasi diagnosis.
Dua x-ray diambil dari sudut yang berbeda (anteroposterior dan 450 miring
sefalik) diperlukan untuk memeriksa secara penuh fraktur multifragmen.
X-ray dada polos juga diambil. Ini memungkinkan eksklusi
pneumothoraks dan, sebagai tambahan, memungkinkan setiap pemendekan
klavikula dapat terlihat, sebagaimana hubungan relatif dari skapula dapat
diperhitungkan.
6. Terapi
Perawatan Prehospital9
◦ Mengidentifikasi dan merawat cedera yang berhubungan dengan
ancaman kehidupan.
▪ Menginisiasi protokol ATLS, dan menstabilisasi pasien.
▪ Melakukan pengamatan sekunder yang cermat.
▪ Memberikan kompres dingin pada cedera.
▪ Imobilisasi ekstremitas atas dengan gendongan
Perawatan Unit Gawat Darurat
• Mengidentifikasi dan merawat cedera yang berhubungan dengan
mengancam nyawa dan ekstremitas. Bila fraktur terbuka, rawat pasien
dengan antibiotik profilaksis, imunisasi tetanus (bila perlu), irigasi, dan
pemberian balut steril sementara menunggu konsultasi ortopedik segera.
• Kelas A (fraktur sepertiga tengah)
◦ Beberapa ahli bedah ortopedi merekomendasikan teknik imobilisasi
untuk fraktur midklavikuler; dengan bidai klavikuler (figure-of-eight).
Bidai ini diberikan setelah reduksi tertutup fraktur, yang dicapai
dengan menarik bahu ke atas dan ke belakang. Reduksi yang demikian
sulit dilakukan dan dpat berhbungan dengan ketidaknyamanan yang
meningkat pada lokasi fraktur. Kelebihan bidai ini adalah memberikan
pasien kemampuan untuk mengguanakan kedua tangan. Namun
literatur menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata pada hasil
pasien yang dirawat dengan bidai ini dibandingkan dengan
gendongan.3 Penyembuhan dapat terjadi secepat-cepatnya 2 minggu
untuk bayi, dengan sebagian besar dewasa sembuh dalam 4-6 minggu.
Imobilisasi harus dipertahankan sampai radiograf ulang menunjukkan
pembentukan kalus dan penyembuhan pada lokasi fraktur.
◦ Dalam sejarah, fraktur kelas A dirawat secara konservatif. Namun,
penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa perawatan operatif dari
fraktur klavikula tengah yang berpindah dapat menghasilkan
peningkatan fungsi dan tingkat malunion dan nonunion yang lebih
rendah, dibandingkan dengan manajemen nonoperatif.4 Fraktur
midklavikular yang memiliki pemendekan awal lebih dari 2cm juga
dapat mendapat keuntungan dari perawatan ortopedik yang awal
karena hal ini telah dihubungkan dengan insiden nonunion yang lebih
tinggi.9,15
• Kelas B (fraktur sepertiga distal): Fraktur tipe I (tidak berpindah) dan Tipe
III (keterlibatan permukaan artikuler) dirawat simptomatis dengan es,
analgesik dan gendonagn untuk menopang. Gerakan segera dengan latihan
range-of-motion bahu pasif secara kuat disarankan untuk mencegah
berkembangnya artritis degeneratif dan untuk mengurangi risiko lekatan
kapsulitis. Lebih penting lagi konsultasi ortopedik (sebelum 72 jam)
direkomendasikan untuk fraktur klavikula lateral tipe II (berpindah) karena
fraktur ini memiliki insidensi nonunion 30% dan mungkin membutuhkan
perbaikan bedah.5,9
Fraktur sepertiga distal lebih jauh disubklasifikasikan menurut lokasi
relatif ligamentum korakoklavikulare terhadap fragmen fraktur.2 Pada
fraktur distal klavikula tipe II, ligamentum korakoklavikulare terlepas dari
segmen medial, menyebabkan perpindahan superior dari fragmen fratur
medial. Hilangnya perlekatan ligamentuk korakoklavikulare terhadap
fragmen medial dapat menjelaskan insidensi nonunion yang lebih tinggi
pada fraktur ini. Meskipun mayoritas fraktur klavikula dapat dirawat
secara konservatif, fraktur klavikula distal (terutama fraktur tipe II)
dirawat secara lebih agresif karena tingkat nonunion yang lebih tinggi.3,4
Karena alasan ini, fiksasi internal seringkali disarankan.10,14
• Kelas C (sepertiga proksimal): Manajemen fraktur klavikula sepertiga
medial diantaranya es, analgesik, dan penopang gendongan. Fraktur
sepertiga medial yang berpindah memerlukan penanganan ortopedik untuk
reduksi. Fraktur klavikula medial dapat berhubungan dengan cedera
intrathorasik atau perkembangan dari komplikasi akhir, misalnya artritis.6,9
7. Komplikasi
Komplikasi neurovaskuler dapat terjadi pada saat terjadinya perlukaan
katika ujung tulang yang tajam merobek pembuluh darah subklavia
ataupun pleksus brakhialis, atau terjadi kemudian yang terjadi akibat
terbentuknya kalus yang berlebihan pada daerah sekitar penyembuhan
fraktur dan mengkompresi struktur di atasnya sehingga menjadi
simtomatik.1,7
Penyembuhan dari fraktur pada posisi abnormal(malunion) dapat
mengakibatkan deformitas kosmetik yang tidak bisa diterima. Malunion
dapat juga mengkakibatkan tidak berfungsinya anggota gerak atas dan rasa
sakit yang kronis.
Insiden nonunion pada fraktur klavikula dilaporkan berkisar antara 0,1
sampai 13%. berikut ini adalah faktor-faktor predesposisi terjadinya
nonunion:
◦ immobilisasi yang tidak adekuat
◦ perawatan dengan operasi
◦ tipe jelas dari fraktur distal klavikula
◦ fraktur dengan interposisi jaringan lunak(soft tissues) diantara ujungujung
tulang
Artritis post traumatik dapat muncul setelah cedera intraartikuler terhadap
sendi sternoklavikuler atau akromioklavikuler. Namun, literatur tidak
mendukung anggapan bahwa fraktur klavikula proksimal memiliki tingkat
artritis post traumatik yang lebih tinggi dibandingkan bentuk-bentuk lain
fraktur klavikular bahkan dengan ekstensi intraartikuler.


PELATIHAN PERAWAT KAMAR BEDAH

COMPETENCY BASE TRAINING BLS & BSORN
( Basic Life Support & Basic Skill Operating Room Nurse )
Tanggal 29 Maret – 1 April 2012

Sekretariat Panitia
Divisi Bedah Sentral & Day Surgery RSUP Dr. Kariadi
Jl. Dr. Soetomo No. 16 Semarang
Tlp. 024 – 8453361

Contact Person :
Rasmudjito, SKep.Ns.MH.Kes. Hp. 081 228 254 65
Sugesti Manua, Skep.Ns. Hp. 081 325 719 357
Abdul Hakim, SKep.Ns. Hp. 085 225 063 560
Leaflet dapat di Download KLIK DISINI
DAFTARKAN SEGERA TEMPAT TERBATAS


What’s wrong with this picture?

Can you find the 25 breaks in technique in this year’s cartoon? (See the answers below).

Answers

  1. Instruments – individual in the next room washing instruments in the scrub sink
  2. Open door facing scrub sink
  3. Cabinet containing equipment that is leaking with clean and sterile supplies
  4. Cleaning – environmental services person removing a white bag of trash out of the room before end of case
  5. Sign on draped instrument table that says “NEXT CASE” – set up for following case
  6. Cleaning – white bag  has blood coming out of the bottom of the bag, should be red bag for hazardous trash
  7. Back instrument table has bloody instruments (retractors) and bloody drape
  8. Back instrument table – basins, med cup have no labels on them
  9. Attire – scrub person has hair and dangling earrings sticking out of cap
  10. Surgeon is working in the incision with an electrode and there is a lot of smoke in the air, no smoke evacuator
  11. The first assistant is fanning the smoke away from the incision
  12. Attire – surgeon has his scrub gown open in the back with ties hanging down
  13. Patient arm out on arm-board with identification band coming off his wrist
  14. Patient leg coming off the operating table
  15. Bloody counted lap sponge and instrument under the operating table
  16. Electrosurgical cautery pedal sitting in a puddle with a frayed cord coming out of pedal
  17. Anesthesia – syringe hanging out of the intravenous tubing
  18. Anesthesia – using trash can as a sharps container
  19. Anesthesia – alcohol dispenser or bottle on the anesthesia machine dripping alcohol
  20. Attire –  nesthesia provider has short sleeve scrub top on, not a warm-up jacket
  21. Staff member has his mask down and is blowing his nose
  22. Attire – Circulator wearing artificial nails and texting
  23. Wrapped instrument set sitting on a shelf has a tear in the wrap
  24. Boom box on a shelf has very loud music coming out of it
  25. Ventilator vent with dust bunnies adhered to it and falling off the vent

Abdominal Laparotomy

Definition :

An incision made through the abdominal wall into the peritoneal cavity,

preperitoneal space, or retroperitoneal space for the purpose of

exploration, diagnosis, and treatment.

Discussion : (lebih…)


Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Pada Neonatus

KEGAWATDARURATAN NEONATUS
Neonatus adalah organisme yang berada pada periode adaptasi kehidupan intrauterin ke ekstrauterin. Masa neonatus adalah periode selama satu bulan tepat 4 minggu atau 28 hari setelah lahir).
Kondisi neonatus yang memerlukan resusitasi :
Baca kelanjutan halaman ini »


Pengelolaan Pasien di Ruang Pulih Sadar

Pada prinsipnya dalam penatalaksananaan anestesi pada suatu operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi, tahap penatalaksana ananestesi dan pemeliharaan serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasa dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room, yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. (lebih…)


Craniotomy Tray

Additional Trays
Kerrison Rongeurs and Pituitary Forceps Tray

Retractors
2 Army-Navy/(USA), 81/2′′ (lebih…)


Harmonic Skalpel

Skalpel harmonik (by Ethicon Endo-Surgery a subsidiary of Johnson & Johnson) menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan mengkoagulasikan jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. Teknik ini menggunakan suhu yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser. Dengan elektrokauter atau laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat memecah sel tersebut (biasanya 1500C-4000C), sedangkan dengan skalpel harmonik temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih rendah (biasanya 500C -1000C).

Sistim skalpel harmonik terdiri atas generator 110 Volt, handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah dan pedal kaki. Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang bergetar dengan frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 µm (paling penting), dan hasil dari pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak dengan jaringan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan tekanan jaringan internal, sehingga menyebabkan fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan. Koagulasi muncul ketika energi mekanik ditransfer kejaringan, memecah ikatan hidrogen tersier menjadi protein denaturasi dan melalui pembentukan panas dari friksi jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi. Skalpel harmonik memiliki beberapa keuntungan dibanding teknik bedah lain, yaitu:Dibandingkan dengan elektrokauter atau laser, kerusakan akibat panas minimal karena proses pemotongan dan koagulasi terjadi pada temperatur lebih rendah dan charring, desiccation (pengeringan) dan asap juga lebih sedikit.

Tidak seperti elektrokauter/laser (bovie), skalpel harmonik tidak memiliki energi listrik yang ditransfer ke atau melalui pasien, sehingga tidak ada stray energi (energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan shock atau luka bakar.Dibandingkan teknik skalpel, lapangan bedah terlihat jelas karena lebih sedikit perdarahan, perdarahan pasca operasi juga minimal.Dibandingkan dengan teknik diseksi standar dan elektrokauter, teknik ini mengurangi nyeri pascaoperasi. Teknik ini juga menguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa mentoleransi kehilangan darah seperti pada anak-anak, pasien dengan anemia atau defisiensi faktor VIII dan pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan.


Timing of Surgery

Elective surgery is surgery to improve a patient’s quality of life—either physically or psychologically. The surgery may be medically indicated, such as a cataract removal or repair, or may be optional and desired by the patient, such as breast augmentation.
Elective surgeries are scheduled according to patient and surgeon convenience. Although planned, time is not of the essence in scheduling. By scheduling the procedure, this allows sufficient time for adequate patient preparation, evaluation, and planning.The risks of elective surgery are dependent upon the procedure to be performed, in addition to the general risks associated with surgery, and include the following:
• Bleeding
• Infection
• Anesthetic exposure
Because the procedures are planned with complete patient preparation, these procedures are associated with a low morbidity and mortality.
Semi-elective surgery is more time sensitive than elective surgery. Although not required within 24 hours, scheduling should be considered a priority, especially by the patient. Examples of semi-elective surgeries
include the following:
• Cholecystectomy for gallstones and repeated episodes of cholecystitis
• Uterine artery ablation for postmenopausal bleeding from fibroids
Semi-elective surgery allows for adequate patient preparation, evaluation, and planning. The risks of the procedure will be dependent upon the procedure, as well as the general risks associated with surgery. Like elective surgery, these procedures carry a relatively low morbidity and mortality.
Urgent surgery is surgery required within 24 hours of diagnosis, and is done so to prevent unnecessary complications that can occur with waiting. Examples of urgent surgery include the following:
• Hip fracture
• Appendectomy
Scheduling within 24 hours allows for adequate patient evaluation, but may not allow for maximizing patient status of conditions not well controlled preoperatively. For example, it may be determined that the patient has preexisting hypertension, but that condition has never been treated.
Emergency surgery cannot be delayed, and must occur within
24 hours. Ideally, the surgery will be scheduled within 2 hours. Any delay may promote critical injury or systemic deterioration, and surgery is required as the result of an urgent medical condition. Examples include the following:
• Stable GI bleed
• Subdural hematoma
The preoperative goal is stabilization before admission to the OR to prevent threats to life or well-being. This urgency may prevent adequate patient preparation and evaluation. The management of these patients requires rapid decision-making with limited time for extensive history taking and diagnoses. Emergency surgery is associated with an increased morbidity and mortality due to risks associated with underlying conditions, as well as surgery and anesthesia, and includes the following:
• Bleeding
• Infection
• Renal failure
• Myocardial infarction
Salvage surgery is required when cardiopulmonary resuscitation is in progress on the way to the OR or in the OR itself. Either a patient’s life or limb is threatened, requiring immediate surgery for survival. Examples include the following:
• Penetrating trauma
• Ruptured aneurysm
• Perforated ulcer
Death is an inevitable outcome unless the patient is brought immediately to the OR. Even with immediate admission to surgery, death remains a very real risk.
From : Clinical Coach for Effective Perioperative Nursing Care


ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal. ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

ESWL sendiri merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau pemasukan alat kedalam tubuh pasien.Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti diluar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut  (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan, B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara natural bersama air seni

Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agarshock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak.

Sejarah lithotripter

Ide penggunakan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Jerman tercatat sebagai negara yang mempelopori pengembangan ESWL. Pada awalnya riset yang digulirkan hanya ingin mempelajari interaksi antara shock wave denganbiological tissue pada hewan.

Riset ini dilakukan antara tahun 1968 sampai 1971 di Jerman, dilatarbelakangi oleh adanya insiden salah seorang pegawai perusahaanDornier (saat ini perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan pembuat mesin lithotripter) secara tidak sengaja tersengat shock wave pada saat eksperimen.

Salah satu hasil dari riset ini adalah ditemukan bahwa shock wavemengakibatkan efek samping yang rendah pada otot, lemak, dan jaringan sel tubuh, dan bone tissue (jaringan tulang) tidak mengalami kerusakan saat dilalui oleh shock wave.

Hasil penelitian ini kemudian membawa lahirnya ide penggunaan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal dari luar tubuh. Pada tahun 1971, Haeusler dan Kiefer telah memulai eksperimen in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal dengan shock wave. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah Jerman secara resmi memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL.

Selanjutnya pada awal tahun 1980 pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan mesin Dornier LithotripterHM1. Sejak saat itu eksperimen lanjutan dilakukan secara intensif denganin-vivo (dilakukan di dalam tubuh) maupun in-vitro. Akhirnya mulai tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulicpiezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat “ledakan” di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakanlithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihat pada Gambar 2.


Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter

Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed, sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wavedari lithotripter ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya, dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh (darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

ESWL di Indonesia

Saat ini penulis belum memiliki data pasti tentang berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang telah melayani prosedur ESWL. Mengingat hargalithotripter yang cukup mahal mungkin hanya rumah sakit besar saja yang telah memiliki alat ini. Mengenai biaya pengobatan dengan ESWL sangat tergantung berapa kali tindakan ESWL yang diperlukan sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal.

Di Amerika, rata-rata pasien menjalani 1.5 kali tindakan ESWL [2] sampai benar-benar bebas dari batu ginjal. Namun jika merujuk pada artikel kesehatan yang menyatakan bahwa untuk sekali tindakan ESWL diperlukan biaya sekitar 4,5 juta rupiah, maka dapat dikatakan bahwa terapi ini selain menawarkan keamanan dan kenyamanan, juga menawarkan biaya pengobatan yang relatif murah.

KEUNTUNGAN ESWL

  1. Tidak invasif (kulit utuh)
  2. Rasa nyeri kalau ada hanya sedikit sekali, sering tak perlu anestesi
  3. Lamanya perawatan pendek atau tak perlu dirawat
  4. Pada residif dapat diulang lagi tanpa kesukaran
  5. Dapat digunakan pada semua usia

SYARAT ESWL

Kesuksesan dari ESWL sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak semua jenis batu dapat dihancurkan dengan metode ini, ukuran, lokasi batu, anatomi ginjal dan kondisi kesehatan pasien juga mempengaruhi. Kandidat yang baik untuk ESWL antara lain :

  1. Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu.
  2. Jenis batu yang mengandung kalsium atau asam urat lebih rapuh dan mudah dipecah.
  3. Lokasi batu di ginjal atau ureter bagian proksimal dan medial.
  4. Tidak adanya obstruksi ginjal
  5. Kondisi kesehatan pasien memenuhi syarat (lihat kontraindikasi ESWL)

KONTRA INDIKASI ESWL

  1. Kehamilan
  2. Koagulopati (gangguan pembekuan darah)
  3. Hipertensi tak terkontrol
  4. Obstruksi saluran kemih distal
  5. Ginjal sudah tidak berfungsi
  6. Adanya infeksi aktif

KOMPLIKASI ESWL

  1. Steinstrasse atau pecahan batu yang tertahan di saluran kemih sehingga menyumbat aliran kemih. Pecahan ini nantinya dapat keluar sendiri atau dibutuhkan tindakan operatif tambahan untuk mengeluarkannya.
  2. Hematom (perdarahan) ringan perirenal
  3. Hematuri (kencing berdarah) akibat pecahan batu yang melukai saluran kemih saat mau dikeluarkan dari tubuh.

PERSIAPAN ESWL

Anda mungkin harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik anda. Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.

ESWL dapat dilakukan kapan saja setelah semua pemeriksaan selesai dan anda memenuhi kriteria. Anda mungkin harus meminum antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam sebelumnya.

Anda dapat meminta sedasi bila anda cemas menunggu saat proses ESWL dilakukan dan yang paling penting adalah hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air sehari.

artikel ini dihimpun dari berbagai sumber


TEKNIK ASEPTIK DI KAMAR BEDAH

A. Perkembangana Sejarah Secara Umum
Sejarah ilmu bedah berkaitan erat dengan sejarah infeksi bedah. Di masa yang lalu tindak bedah banyak mengalami kompli¬kasi infeksi, dan saat itu pencegahan infeksi ini belum diketahui karena belum diketahui¬nya mekanisme infeksi. Penelitian menge¬nai infeksi dimulai oleh Semmelweis* di tahun 1847 yang mengamati bahwa angka kematian postpartum* akibat febris puerpe¬ralis* lebih tinggi pada ibu yang persalin¬annya ditolong oleh dokter atau mahasiswa kedokteran daripada mereka yang ditolong oleh bidan.
Dalam masa pengamatannya itu pula seorang profesor patologi Kolletschka meninggal setelah menderita luka pada waktu mengerjakan autopsi. Hasil autopsi pada Kolletscaka menunjukkan gejala yang sama dengan gejala febris puetperalis. Ter¬nyata kebanyakan dokter atau mahasiswa yang menolong persalinan, sebelumnya me¬lakukan autopsi di kamar mayat sehingga diambil kesimpulan bahwa sesuatu dari ma¬yat/kamar autopsi telah menyebabkan kon¬taminasi luka yang menyebabkan kema¬tian.
Sejak itu ia membuat peraturan bahwa setiap dokter atau mahasiswa yang akan menolong persalinan harus mencuci ta¬ngannya dalam larutan kapur klor. Dengan tindakan ini ternyata angka kemanan post¬partum akibat febris puerperalis menurun. Sayang Semmelweis tidak mendapat du¬kungan dari pimpinan rumah sakit dalam hal tindakan antisepsis ini.
Semmelweis dipecat dari jabatannya dan meninggal da¬lam suaka di Hongaria pada usia 47 tahun akibat sepsis yang diberantasnya dengan tindakan higienis di rumah sakit di Wina.
Sementara itu, Lister* mendapatkan angka kematian yang tinggi pada penderita patah tulang terbuka. Pada masa itu Pas¬teur* menemukan mikroba yang menye¬babkan peragian pada pembuatan anggur. Atas dasar penemuan Pasteur tersebut, Lis¬ter mengemukakan teori bahwa pembu¬sukan dan pernanahan yang terjadi pada patah tulang terbuka juga disebabkan oleh mikroba pada luka; dan mikroba ini dapat dibunuh. Kemudian dia membuat suatu pro¬sedur pencucian luka pada patah tulang ter¬buka dengan larutan asam karbol untuk mematikan mikroba. Terbukti kemudian kejadian pernanahan sangat menurun.
Setelah itu, didukung oleh teori Koch*, lahirlah konsep antisepsis*, yaitu usaha membunuh kuman di luar tubuh agar tidak dapat masuk lagi melalui luka bedah dan bertumbuh dalam tubuh.
Halsted* mulai memperkenalkan sa¬rung tangan karet dalam pembedahan yang sebenarnya semula dimaksudkan untuk me¬nolong seorang perawat kamar bedah (yang kemudian menjadi isterinya) yang tidak ta¬han cuci tangan dengan larutan sublimat. Penggunaan sarung tangan dan konsep suci hama alat perlengkapan bedah termasuk sa¬rung tangan yang dipelopori ahli bedah Jer¬man ini, menghasilkan konsep asepsis yaitu usaha untuk mempertahankan agar alat dan perlengkapan bedah tetap dalam keadaan sucihama.

B. Pengertian Aseptik & Antiseptik
1. Asepsis
adalah prinsip bedah untuk mempertahankan keadaan bebas kuman. Keadaan asepsis merupakan syarat mutlak dalam tindak bedah.
2. Antisepsis
adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai keadaan bebas kuman patogen. Tindakan ini bertujuaan mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh kuman patogen. Obat-obat anti¬septik, misalnya lisol atau kreolin, adalah zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit. (lebih…)



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.