GRUP KOMUNITAS PERAWAT KAMAR BEDAH

Grup ini merupakan wadah jejaring facebook untuk perawat yang bekerja di ruang operasi (Operating Room), sebagai bagian integral dari Unit Pelayanan Kamar Bedah, sehingga bisa saling share, tukar pengalaman dan informasi.terima kasih!!!

KLIK GAMBAR DIBAWAH UNTUK BERGABUNG

https://i0.wp.com/a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/418487_355277164548390_457025085_n.jpg

SELAMAT BERGABUNG

LETS GO LEGAL WITH SURGICAL SAFETY CHECKLIST….
Safe Surgery Saves Lives…

Iklan

KAMAR OPERASI DOMINAN WARNA HIJAU, MENGAPA?????

oknursePernahkah anda memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh tim bedah di ruang operasi (dokter, perawat, dan staf lainnya)??? Warna pakaian yang dikenakan bukanlah berwarna putih (lazim dipakai di seluruh rumah sakit) melainkan HIJAU, bahkan dibeberapa rumah sakit cat tembok dan  lantai ruang operasi serta duk ( kain untuk operasi pun berwarna HIJAU).

Menurut seorang ahli psikologi, melihat warna HIJAU dapat menyegarkan dan ringan di mata ahli bedah dan tim operasi lainnya (anastesi, assistant, scrub & circulating nurse) dalam melihat benda-benda berwarna merah, termasuk organ-organ tubuh yang berlumuran darah saat pembedahan.

Melihat warna merah terus menerus menyebabkan sinyal warna merah di otak memudar sensifitasnya terhadap variasi warna merah. Alasan lainnya adalah, terus-menerus berfokus pada warna merah akan menyebabkan ilusi nofa berwarna HIJAU pada latar warna berwarna terang atau putih. Ini akan menggangu penglihatan. Jika warna baju ahli bedah berwarna HIJAU, ilusi ini akan memudar dan tidak akan mengganggu penglihatan.

Secara psikologis warna HIJAU juga memberikan efek rasa aman, menyegarkan, menyejukkan, menyeimbangkan emosi dan meredam stres.

Ada sebuah cerita di sebuah rumah sakit pernah mengundang sejumlah pakar untuk memberikan saran bagi warna dinding ruang pasien atau warna dinding rumah sakit, sehingga bisa banyak membantu dalam mengobati mereka. Rumah sakit juga meminta saran tentang warna yang terbaik untuk pakaian pasien.

Sejumlah percobaan telah membuktikan bahwa warna kuning bisa membangkitkan semangat di syaraf pusat. Adapun warna ungu bisa membangkitkan ketenangan;Adapun warna biru, maka orang yang melihatnya akan merasa dingin. Sebaliknya, warna merah maka orang akan merasa panas atau gersang. Dan para pakar tersebut mengatakan bahwa warna yang bisa membangkitkan kebahagiaan, gembira, semangat hidup (bergairah) adalah warna HIJAU.

Di London, Inggris, di kawasan Black Fryer yang dikenal dengan “kawasan bunuh diri” karena mayoritas kejadian bunuh diri banyak terjadi di kawasan ini. Kemudian diadakan perubahan warna dari warna gelap gurun ke warna HIJAU metalik. Dengan hal ini ternyata terjadi penurunan jumlah kejadian bunuh diri dengan sangat signifikan

PELATIHAN PERAWAT KAMAR BEDAH

COMPETENCY BASE TRAINING BLS & BSORN
( Basic Life Support & Basic Skill Operating Room Nurse )
Tanggal 29 Maret – 1 April 2012

Sekretariat Panitia
Divisi Bedah Sentral & Day Surgery RSUP Dr. Kariadi
Jl. Dr. Soetomo No. 16 Semarang
Tlp. 024 – 8453361

Contact Person :
Rasmudjito, SKep.Ns.MH.Kes. Hp. 081 228 254 65
Sugesti Manua, Skep.Ns. Hp. 081 325 719 357
Abdul Hakim, SKep.Ns. Hp. 085 225 063 560
Leaflet dapat di Download KLIK DISINI
DAFTARKAN SEGERA TEMPAT TERBATAS

Pengelolaan Pasien di Ruang Pulih Sadar

Pada prinsipnya dalam penatalaksananaan anestesi pada suatu operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi, tahap penatalaksana ananestesi dan pemeliharaan serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasa dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room, yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. Baca lebih lanjut

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)

Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal. ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

ESWL sendiri merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau pemasukan alat kedalam tubuh pasien.Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti diluar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut  (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan, B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara natural bersama air seni

Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agarshock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak.

Sejarah lithotripter

Ide penggunakan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Jerman tercatat sebagai negara yang mempelopori pengembangan ESWL. Pada awalnya riset yang digulirkan hanya ingin mempelajari interaksi antara shock wave denganbiological tissue pada hewan.

Riset ini dilakukan antara tahun 1968 sampai 1971 di Jerman, dilatarbelakangi oleh adanya insiden salah seorang pegawai perusahaanDornier (saat ini perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan pembuat mesin lithotripter) secara tidak sengaja tersengat shock wave pada saat eksperimen.

Salah satu hasil dari riset ini adalah ditemukan bahwa shock wavemengakibatkan efek samping yang rendah pada otot, lemak, dan jaringan sel tubuh, dan bone tissue (jaringan tulang) tidak mengalami kerusakan saat dilalui oleh shock wave.

Hasil penelitian ini kemudian membawa lahirnya ide penggunaan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal dari luar tubuh. Pada tahun 1971, Haeusler dan Kiefer telah memulai eksperimen in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal dengan shock wave. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah Jerman secara resmi memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL.

Selanjutnya pada awal tahun 1980 pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan mesin Dornier LithotripterHM1. Sejak saat itu eksperimen lanjutan dilakukan secara intensif denganin-vivo (dilakukan di dalam tubuh) maupun in-vitro. Akhirnya mulai tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulicpiezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat “ledakan” di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakanlithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihat pada Gambar 2.


Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter

Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed, sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wavedari lithotripter ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya, dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh (darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

ESWL di Indonesia

Saat ini penulis belum memiliki data pasti tentang berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang telah melayani prosedur ESWL. Mengingat hargalithotripter yang cukup mahal mungkin hanya rumah sakit besar saja yang telah memiliki alat ini. Mengenai biaya pengobatan dengan ESWL sangat tergantung berapa kali tindakan ESWL yang diperlukan sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal.

Di Amerika, rata-rata pasien menjalani 1.5 kali tindakan ESWL [2] sampai benar-benar bebas dari batu ginjal. Namun jika merujuk pada artikel kesehatan yang menyatakan bahwa untuk sekali tindakan ESWL diperlukan biaya sekitar 4,5 juta rupiah, maka dapat dikatakan bahwa terapi ini selain menawarkan keamanan dan kenyamanan, juga menawarkan biaya pengobatan yang relatif murah.

KEUNTUNGAN ESWL

  1. Tidak invasif (kulit utuh)
  2. Rasa nyeri kalau ada hanya sedikit sekali, sering tak perlu anestesi
  3. Lamanya perawatan pendek atau tak perlu dirawat
  4. Pada residif dapat diulang lagi tanpa kesukaran
  5. Dapat digunakan pada semua usia

SYARAT ESWL

Kesuksesan dari ESWL sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak semua jenis batu dapat dihancurkan dengan metode ini, ukuran, lokasi batu, anatomi ginjal dan kondisi kesehatan pasien juga mempengaruhi. Kandidat yang baik untuk ESWL antara lain :

  1. Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu.
  2. Jenis batu yang mengandung kalsium atau asam urat lebih rapuh dan mudah dipecah.
  3. Lokasi batu di ginjal atau ureter bagian proksimal dan medial.
  4. Tidak adanya obstruksi ginjal
  5. Kondisi kesehatan pasien memenuhi syarat (lihat kontraindikasi ESWL)

KONTRA INDIKASI ESWL

  1. Kehamilan
  2. Koagulopati (gangguan pembekuan darah)
  3. Hipertensi tak terkontrol
  4. Obstruksi saluran kemih distal
  5. Ginjal sudah tidak berfungsi
  6. Adanya infeksi aktif

KOMPLIKASI ESWL

  1. Steinstrasse atau pecahan batu yang tertahan di saluran kemih sehingga menyumbat aliran kemih. Pecahan ini nantinya dapat keluar sendiri atau dibutuhkan tindakan operatif tambahan untuk mengeluarkannya.
  2. Hematom (perdarahan) ringan perirenal
  3. Hematuri (kencing berdarah) akibat pecahan batu yang melukai saluran kemih saat mau dikeluarkan dari tubuh.

PERSIAPAN ESWL

Anda mungkin harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik anda. Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.

ESWL dapat dilakukan kapan saja setelah semua pemeriksaan selesai dan anda memenuhi kriteria. Anda mungkin harus meminum antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam sebelumnya.

Anda dapat meminta sedasi bila anda cemas menunggu saat proses ESWL dilakukan dan yang paling penting adalah hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air sehari.

artikel ini dihimpun dari berbagai sumber