Registered Nurse?

Banyak teman-teman perawat yang belum begitu paham tentang Registered Nurse (RN)?
RN Adalah perawat yang telah diregistrasi dan secara hukum telah memiliki lisensi untuk praktek keperawatan. Registrasi dan lisensi ini diberikan oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah atau melalui undang-undang. Syarat-syarat untuk dapat diregister mengacu pada pendidikan keperawatan yang diakui.

Apakah sudah ada RN di Indonesia?
Bila merujuk pada definisi umum yang ada diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, setiap perawat yang telah memiliki SIP (surat ijin perawat) adalah RN.

Adakah syarat untuk menjadi RN?
Syarat untuk diregister di indonesia harus telah lulus pendidikan keperawatan yang diakui oleh pemerintah dan asosiasi profesi. Saat ini ada dua katagori perawat lulusan baru, yaitu lulus pendidikan Diploma III atau lulus pendidikan Ners. Kemudian calon memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti bebas dari catatan kriminal dan lulus uji kompetensi profesi.

Adakah Registered Nurse International?
Registrasi berlaku di setiap negara. Tidak ada satu lisensi untuk semua negara. Bila akan menjalankan praktek keperawatan di negara lain, proses pendaftaran (registrasi) untuk bisa menjalankan praktek (lisensi) harus dilakukan di negara tersebut, tapi dipersyaratkan bahwa mereka yang mengajukan untuk diregister di negara lain, harus memiliki register juga di negara asal. Namun beberapa negara memiliki sistem pengakuan mekanisme penapisan, sehingga untuk proses registrasi menjadi lebih mudah.

Bisakah lembaga swasta atau lembaga pelatihan menerbitkan sertifikat RN?
Lembaga swasta atau lembaga pelatihan dapat menerbitkan sertifikat kompetensi untuk kepentingan mereka sendiri (internal). Tetapi, pengakuan terhadap sertifikat tersebut mungkin tidak berlaku bagi pihak lain. Untuk itu, hati-hati terhadap lembaga yang mengatakan bisa menerbitkan sertifikat RN.

Apa peran PPNI dalam sertifikasi kompetensi?
Sebagai organisasi profesi, PPNI membuat berbagai standar kompetensi, kode etik dan juga mengembangkan berbagai instrumen uji profesi dan kompetensi. Instrumen ini diharapkan bisa menjadi penyaring agar perawat yang ter-register nanti benar-benar sesuai standar kompetensi profesi yang diharapkan.

Sumber : http://www.inna-ppni.or.id/

11 TSUNAMI TERBESAR

Rekam jejak tsunami ternyata sudah terjadi sejak tahun 6.000 Sebelum Masehi. Laman media ilmiah Livescience.com mencatat daftar tsunami maha dahsyat yang pernah terjadi di bumi.

6.000 SM

Gugusan salju besar di Sisilia longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.

1 November 1755

Setelah gempa yang menghancurkan Lisbon, Portugal, dan mengguncang sebagian besar Eropa. Orang-orang banyak yang berlindung di perahu. Namun, tsunami justru terjadi. Tak pelak bencana ini menewaskan lebih dari 60 ribu orang.

27 Agustus 1883

Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, memicu tsunami yang menenggelamkan pesisir Sumatera, Jawa bagian utara, dan Kepulauan Seribu. Kekuatan gelombang bisa menyeret karang seberat 600 ton ke pantai. 36 ribu orang meninggal sia-sia.

15 Juni 1896

Gelombang setinggi 30 meter muncul sesaat setelah terjadi gempa di Jepang. Seluruh pantai timur disapu tsunami itu. 27 ribu orang meninggal.

1 April 1946

Gempa besar di Alaska menimbulkan gelombang besar di Hawaii. Bencana yang sering disebut sebagai misteri “April Fools Tsunami” itu menewaskan 159 orang.

9 Juli 1958

Gempa berkekuatan 8,3 SR di Alaska menyebabkan gelombang besar hingga 576 meter di Teluk Lituya, Alaska. Ini merupakan tsunami terbesar yang tercatat di zaman modern.

Untung saja, tsunami terjadi di tempat terisolir, sehingga tidak menimbulkan banyak korban. Tsunami ini hanya menyebabkan dua nelayan meninggal dunia, karena kapalnya karam diterjang ombak.

22 Mei 1960

Gempa bumi terbesar yang pernah tercatat sebesar 8,6 SR di Chile. Gempa ini menciptakan tsunami yang menghantam Pantai Chile dalam waktu 15 menit. Gelombang tinggi terjadi hingga 25 meter. Tsunami ini menewaskan 1.500 orang di Chile dan Hawaii.

27 Maret 1964

Gempa Alaska “Good Friday” berkekuatan 8,4 SR, menimbulkan gelombang 67 meter di kawasan Valdez Inlet, Alaska. Gelombang dengan kecepatan 640 kilometer per jam ini menewaskan lebih dari 120 orang. Sepuluh orang di antaranya dari Crescent City, California, yang juga mendapat kiriman ombak setinggi 6,3 meter.

23 Agustus 1976

Tsunami di Filipina barat daya menewaskan 8 ribu orang. Gelombang besar ini juga dipicu gempa bumi di sekitar pantai.

17 Juli 1998

Gempa dengan kekuatan 7,1 SR menghasilkan tsunami di Papua Nugini. Gelombang besa dengan cepat membunuh 2.200 orang.

26 Desember 2004

Gempa maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 SR mengguncang di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa paling besar sepanjang 40 tahun terakhir ini menimbulkan gelombang tinggi di Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Setidaknya 320 ribu orang dari delapan negara meninggal dunia. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.

28 Maret 2005

Tiga bulan kemudian tsunami juga terjadi di Sumatera. Gempa di lepas pantai Nias yang berkekuatan 8,7 SR itu memicu tsunami besar yang menewaskan 1.300 orang di Pulau Nias, Sumatera Barat.
sumber :vivanews

Carilah Ilmu Sampai ke Negeri Gempa

Disadari atau tidak, kita hidup di bumi dari Sabang sampai Merauke, akrab dengan bencana alam gempa bumi. Karena bukan hanya sekali dua kali goyangan bumi itu mengguncang Tanah Air. Peristiwa yang baru saja terjadi, gempa bumi kuat, Rabu (2/9) sekitar pukul 14.55 WIB, menggoyang wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa berada pada 8,24 Lintang Selatan 107,32 Bujur Timur, sekitar 142 kilometer Barat Daya Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan kedalaman 30 kilometer di bawah permukaan laut.

Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Richter itu, tak hanya mengguncang Tasikmalaya, namun juga dirasakan di Jakarta, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Garut, Purwakarta, Cilacap, Tegal, bahkan hingga Bali. Di Jakarta, gempa itu membuat para penghuni gedung bertingkat panik. Di beberapa kawasan bisnis seperti di Sudirman, Senayan City, dan Mega Kuningan, para penghuni gedung berhamburan keluar. Bahkan, sebagian dari mereka, tak mau lagi kembali masuk ke gedung karena mengalami trauma.

Rasanya belum selesai menarik nafas panjang, gempa bumi terjadi lagi, Senin (8/9) pukul 23.12 WIB. Pusat gempa berada di 263 km arah tenggara Wonosari atau 283 km sebelah tenggara Yogyakarta. Belum diketahui persis, akibat yang ditimbulkan dari gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter itu.

Berulang kali gempa bumi mengakibatkan kerusakan fisik rumah tinggal dan bangunan serta menelan korban jiwa manusia yang tak sedikit. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Senin (7/9), sampai hari keenam pascagempa Tasikmalaya, korban meninggal mencapai 73 orang. Korban meninggal terbanyak di Kabupaten Cianjur dengan jumlah 29 orang. Sedikitnya 34 orang masih belum ditemukan. Diduga warga yang hilang itu tertimbun longsoran atau berada di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk.

Setelah mengalami gempa dan tsunami yang mahadahsyat di Aceh pada 2004 dan gempa Yogyakarta 2006, masyarakat tampak lebih waspada. Setidaknya, mulai ada sistem peringatan dini mengantisipasi tsunami. Warga yang tinggal di dekat pantai menyelamatkan diri ke daerah lebih tinggi begitu terjadi gempa. Untunglah, gempa yang dipicu oleh gesekan lempengan Indo-Australia kali ini tidak menimbulkan gelombang air bah.

Meski masyarakat kita akrab dengan gempa, bukan berarti kita telah siap hidup dalam ancaman bencana. Seperti yang terjadi dalam berbagai peristiwa gempa sebelumnya, tetap saja pemerintah daerah lamban membantu para korban bencana. Mereka harus membentuk tim dulu, melakukan rapat-rapat, sebelum bergerak menolong korban. Bukan hanya itu, di sisi lain reaksi masyarakat dalam menghadapi gempa tidak selalu tepat. Mereka, misalnya, tidak mematikan kompor atau listrik sebelum melarikan diri ke luar rumah. Sebagian masyarakat, juga terlalu panik sehingga terluka atau bahkan meninggal bukan oleh sebab guncangan itu sendiri melainkan karena terjatuh. Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan masyarakat, namun justru ingin mengingatkan dan menyadarkan kembali apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi gempa yang selalu terjadi berulang. Tujuannya, untuk meminimalisir kerusakan fisik dan menjaga keselamatan jiwa masyarakat.

Kerusakan akibat gempa yang terjadi di kawasan Jawa Barat, Rabu (2/9) lalu, sedikitnya mengakibatkan kerusakan fisik berbagai fasilitas umum dan rumah tinggal senilai satu triliun rupiah. Jumlah ini baru diperkirakan untuk satu kota. Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kabupaten Garut Elka Nurhakimah. Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Garut memperkirakan kerugian pemerintah daerah Garut mencapai nilai Rp 1 triliun. Tentu saja, hitung-hitungan ini belum mencakup wilayah lain seperti Tasikmalaya, Cianjur, dan kota-kota lain yang juga mengalami kerusakan parah.

Pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat menyediakan dana Rp 90 miliar untuk penanganan bencana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun secara pribadi memberikan dana pribadinya senilai Rp 5 miliar rupiah untuk penanganan bencana di Jawa Barat itu. Rincian pembagiannya antara lain, Kabupaten Tasikmalaya mendapat sumbangan Rp 1 miliar, Kabupaten Bandung Rp 800 juta, Garut Rp 750 juta, Kabupaten Ciamis Rp 700 juta, Sukabumi Rp 600 juta, Kabupaten Bandung Barat Rp 250 juta, Kota Tasikmalaya Rp 225 juta, Cianjur Rp 250 juta, Kabupaten Bogor Rp 250 juta, Kuningan Rp 100 juta, Kabupaten Banjar Rp 90 juta, Majalengka Rp 75 juta, Subang Rp 50 juta, dan Kabupaten Purwakarta Rp 50 juta. Bantuan dari Presiden SBY itu dianggap sebagai bagian dari dana tanggap darurat. Masa tanggap darurat adalah 14 hari, dari hari pertama bencana sampai 17 September mendatang.

Seberapa kuat pemerintah dapat membantu dan menutup seluruh kerugian akibat bencana? Bagaimana jika terjadi bencana serupa yang besar lagi? Bukankah jumlah dana pemerintah untuk penanganan bencana sangat terbatas? Pertanyaan lainnya, bagaimana upaya pemerintah mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi bencana yang bisa sewaktu-waktu terjadi? Bagaimana seharusnya masyarakat bersikap saat menghadapi bencana gempa? Bagaimana penanganan para korban yang mengalami trauma berat akibat gempa? Banyak pekerjaan rumah yang harus dipelajari berkaitan dengan bencana alam terutama gempa.

Fakta bahwa negeri bernama Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Inilah yang menyebabkan gempa tektonik terjadi hampir setiap hari, dan kita harus berkompromi dengan kondisi ini. Alam semesta tak bisa diatur, tapi manusialah yang bisa mensiasati kondisi itu dengan lebih cerdas, cerdik, dan bijak. Rasanya kok tidak bijak jika setiap kali bencana datang, sebagian masyarakat dan bahkan tokoh masyarakat terus-menerus memposisikan peristiwa itu sebagai cobaan dari Sang Pencipta. Apalagi sebagai hukuman dari Yang Ilahi.

Bukan hanya negeri Indonesia yang menjadi langganan gempa. Negeri Matahari Terbit Jepang juga merupakan negara ‘pelanggan tetap’ gempa bumi. Pada 17 Januari 1995, sebuah gempa bumi hebat mengguncang kota pelabuhan Kobe di selatan Jepang. Menurut kantor berita BBC, gempa berkekuatan 7,2 magnitude itu merupakan yang terbesar di Jepang dalam 47 tahun terakhir. Total korban tewas akibat gempa tercatat 6.433 orang, 27.000 orang lainnya terluka.

Hanya dalam waktu 20 detik, kota berpenduduk 1,5 juta jiwa itu luluh lantak. Ribuan gedung, apartemen, rumah, dan jalan layang di kota Kobe hancur. Sejumlah kereta api keluar dari jalurnya dan aliran listrik kota terputus di sejumlah tempat. Total kerusakan rumah tinggal 250.000 bangunan dengan perincian 104.906 hancur total, 144.274 hancur sebagian, 390.506 bangunan rusak, sekitar 460.000 keluarga kehilangan tempat tinggal atau tempat tinggal mengalami kerusakan. Bukan hanya itu, badai api pun kemudian menyergap kota. Korban akibat kebakaran 7,483 bangunan terbakar habis, di antaranya 6.148 bangunan tempat tinggal (rumah dan apartemen), 9.017 keluarga kehilangan tempat tinggal. Kerugian lainnya, jalan dan jalan raya mengalami kerusakan di 10.069 tempat, 320 bangunan jembatan mengalami kerusakan, kerusakan pinggiran sungai di 430 tempat, tanah longsor di 378 tempat. Total kerugian diperkirakan mencapai 10 triliun yen, sebesar 2.5% dari GDP Jepang pada saat itu. Atau sekitar 100 miliar dolar AS. Korban yang mengungsi lebih dari 300.000 orang. Setelah peristiwa pilu itu, sebagian penduduk Kobe berpindah ke kota lain. Getaran gempa Kobe juga dirasakan hingga ke kota Osaka dan Kyoto. Dahsyat, luar biasa!

Pascabencana itu, reaksi cepat tanggapnya masyarakat Jepang sangat luar biasa. Jumlah relawan yang membantu korban gempa bumi waktu itu, rata-rata sekitar 20.000 orang per hari. Dalam 3 bulan pertama, total relawan yang datang membantu sekitar 1.170.000 orang. Pemerintah Jepang kemudian menetapkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Relawan dan Penanggulangan Gempa Bumi.

Peristiwa Kobe membawa kesadaran baru. Sadar gempa seolah menjadi kebutuhan masyarakat Jepang. Masyarakat cepat bangkit belajar berbagai hal tentang gempa dan penyelamatan diri saat terjadi bencana bumi berguncang itu. Anak-anak sekolah pun diperkenalkan dengan berbagai pengetahuan tentang gempa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka mendalami gempa bukan hanya sekadar sebagai materi pengetahuan hafalan, tapi secara praktis mereka mempelajari bagaimana gempa itu bisa terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana seharusnya sikap mereka ketika gempa itu berlangsung. Menarik. Kini pemerintah dan masyarakat Jepang amat siap mental menghadapi gempa. Semua itu terjadi melalui proses pembelajaran, kesadaran, dan kerja keras dari pemerintah dan rakyatnya.

Saatnya Indonesia juga mengakrabi gempa secara sadar dan benar. Karena gempa merupakan bagian dari hidup kita, yang setiap saat bisa terjadi. Pembelajaran, kesadaran, dan berbagai pengetahuan tentang gempa harus pula dipahami oleh seluruh masyarakat. Bukan hanya mereka yang tinggal di perkotaan saja, tapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Sehingga ketika gempa mengguncang Tanah Air, tindakan penyelamatan yang efektif dapat dijalankan. Makin mengenal sifat dan kharakter gempa, minimal kerugian dan korban jiwa dapat diperkecil. Barangkali, itulah pentingnya membudayakan sikap siap menghadapi gempa. Ada baiknya juga belajar dari negeri gempa.
liputan6.com + dari berbagai sumber)

Klasifikasi Pengukuran Gempa Bumi

Seismograf menggunakan dua klasifikasi yang berbeda untuk mengukur gelombang seismik yang dihasilkan gempa, yaitu besaran gempa dan intensitas gempa. Kedua klasifikasi pengukuran ini menggunakan skala pengukuran yang berbeda pula. Skala pengukuran gempa tersebut terdiri dari Skala Richter dan Skala Mercalli. Skala Richter digunakan untuk menggambarkan besaran gempa sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan manusia.
Klasifikasi Besaran Gempa

Pada 1935, seorang Geophysics Amerika bernama Charles Francis Richter (1900-1985) bersama dengan Geophysics lain bernama Beno Gutenberg (1889-1960) mengembangkan skala yang pada prinsipnya dapat membandingkan semua seismogram sehingga mendapatkan gambaran tremors kekuatan yang serupa. Skala tersebut bernama Skala Richter dan sampai sekarang diakui sebagai standar umum skala kekuatan gempa.

Skala Richter dirancang dengan logaritma, yang berarti bahwa setiap langkah menunjukkan kekuatan yang 10 kali lebih hebat dari para pendahulunya. 5 Skala Richter menunjukkan benturan keras, yang 10 kali lebih kuat dari satu di 4 dan 100 kali lebih kuat dari satu di 3 Skala Richter. Perhitungan ini sering disebut sebagai Skala Richter terbuka, karena tidak beroperasi tanpa batas atas. Ukuran Skala Richter dapat dilihat pada tabel berikut:
Ukuran Skala Richter Keterangan
1,0 – 3,0 Tidak diberi label oleh manusia.
3,0 – 3,9 Dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa. Lampu gantung mulai goyang.
4,0 – 4,9 Terasa sekali getarannya. Jendela bergetar san bergeruruk, permukaan air beriak-riak, daun pintu terbuka-tutup sendiri.
5,0 – 5,9 Sangat sulit untuk berdiri tegak. Porselin dan kaca pecah, dinding yang lemah pecah, lepas dari batu bata, dan permukaan air di daratan terbentuk gelombang air.
6,0 – 6,9 Batu runtuh bersama-sama, runtuhnya bangunan bertingkat tinggi, rubuhnya bangunan lemah, ketekan di dalam tanah.
7,0 – 7,9 Tanah longsor, jembatan roboh, bendungan rusak dan hancur. Beberapa bangunan tetap, keretakan besar di tanah, trek kereta api bengkok. Terjadi kerusakan total di daerah gempa.
8,0 – … Dapat menyebabkan kerusakan serius di beberapa daerah dalam radius seratus kilometer dari wilayah gempa.
Klasifikasi Intensitas Gempa

Pada 1902, seorang Vulkanolog Italia bernama Giuseppe Mercalli (1850-1914) mengklasifikasi skala intensitas gempa bumi dan pengaruhnya terhadap manusia, bangunan (gedung), dan alam (tanah). Klasifikasi tersebut bernama Skala Mercalli yang ditentukan berdasarkan kerusakan akibat gempa dan wawancara kepada para korban, sehingga bersifat sangat subyektif. Oleh karena itu, pada tahun 1931 seorang ilmuwan dari Amerika memodifikasi Skala Mercalli ini dan sampai sekarang digunakan di banyak wilayah gempa. Klasifikasi intensitas gempa dengan Skala Mercalli dapat dilihat di tabel berikut :
Ukuran Keterangan
I Direkam hanya oleh seismograf.
II Getaran hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa.
III Getaran dirasakan oleh beberapa orang.
IV Getaran akan dirasakan oleh banyak orang. Porselin dan barang pecah belah berkerincing dan pintu berderak.
V Binatang merasa kesulitan dan ketakutan. Bangunan mulai bergoyang. Banyak orang akan bangun dari tidurnya.
VI Benda-benda mulai berjatuhan dari rak.
VII Banyak orang cemas, keretakan pada dinding dan jalan.
VIII Pergeseran barang-barang dirumah.
IX Kepanikan meluas, tanah longsor, banyak atap dan dinding yang roboh.
X Banyak bangunan rusak, lebar keretakan di dalam tanah mencapai hingga 1 meter.
XI Keretakan dalam tanah makin melebar, banyak tanah longsor dan batu yang jatuh.
XII Hampir sebagian besar bangunan hancur, permukaan tanah perubahan menjadi radikal.