LETS GO LEGAL WITH SURGICAL SAFETY CHECKLIST….

Posts tagged “PERKEMBANGAN PROFESI KEPERAWATAN

PELATIHAN PERAWAT KAMAR BEDAH

COMPETENCY BASE TRAINING BLS & BSORN
( Basic Life Support & Basic Skill Operating Room Nurse )
Tanggal 29 Maret – 1 April 2012

Sekretariat Panitia
Divisi Bedah Sentral & Day Surgery RSUP Dr. Kariadi
Jl. Dr. Soetomo No. 16 Semarang
Tlp. 024 – 8453361

Contact Person :
Rasmudjito, SKep.Ns.MH.Kes. Hp. 081 228 254 65
Sugesti Manua, Skep.Ns. Hp. 081 325 719 357
Abdul Hakim, SKep.Ns. Hp. 085 225 063 560
Leaflet dapat di Download KLIK DISINI
DAFTARKAN SEGERA TEMPAT TERBATAS


Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX dengan PPNI

Hari Rabu Tgl 16 November 2011, Persatuan Perawat Nasional Indonesia telah diundang dan diminta masukan oleh Komisi IX DPR RI dalam rangka Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI. Komisi IX Memang merupakan Komisi yang mengurusi salah satunnya adalah masalah kesehatan. RDP Dilakukan Pukul 10-13.00 WIB dan dipimpin lansung oleh Ketua Komisi IX dan juga Ketua Panja Pembahasan RUU Keperawatan: Ibu Ciptaning.

 

Pada RDP ini Membahas tentang RUU Keperawatan yang akan dibahas oleh Dewan pada Desember-Januari mendatang, sebelum membahas tentang RUU Keperawatan dan mengesahkan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan, maka Komisi IX DPR RI Mencari masukan dan pandangan Umum berkaitan dengan perlunya UU Keperawatan di Indonesia.

 

PPNI sebagai satu-satunya Organisasi Profesi Perawat di Indonesia dan juga sebagai penyambung aspirasi perawat (Anggota PPNI) untuk memperjuangkan bahwa Indonesia harus mempunyai suatu aturan yang jelas berkaitan dengan keperawatan dan aturan tersebut harus berupa Undang-Undang Keperawatan, layaknya diberbagai negara telah memiliki UU Keperawatan (Nursing Act). Oleh karena itu Komisi IX untuk pertama kalinya mengundang secara syah PPNI Untuk mendapatkan masukan yang berimbang tentang RUU Keperawatan yang selama ini menjadi konsent PPNI dan DPR RI.

Pada acara RDP tersebut dapat digambarkan bahwa semua anggota dewan terutama Komisi IX dan Juga Panja yang selama ini membahas tentang RUU Keperawatan telah sepakat dan bersetuju untuk dapat membahas dan meneruskan dan meneruskan menjadi UU Keperawatan. tentunya masih harus banyak perbaikan didalam isi RUU Keperawatan tersebut.

Ketua Komisi IX sekaligus ketua Panja pembahasan RUU Keperawatan yaitu Ibu Ciptaning dan anggota dewan yang lain telah sepakat bahwa pentingnya UU Keperawatan untuk dibahas dan disyahkan dengan tujuan memberikan aturan yang jelas, dan menjamin mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan di Indonesia sehingga masyarakat terutama perawat sebagai pemberi pelayanan dan Masyarakat (Pasien) mendapatkan perlindungan hukum atas kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh perawat.

RDP Ini merupakan langkah awal dan Komisi IX akan mencari masukan secara berimbang baik dari profesi lain, nara sumber lain dan masyarakat lansung berkaitan dengan RUU Keperawatan sebelum memasuki sidang paripurna DPR dan mensyahkan menjadi UU Keperawatan.

RDP Merupakan salah satu proses panjang yang harus dilalui sebelum pembahasan dalam mensyahkan Undang-Undang. untuk itu PPNI Pusat sebagai Organisasi Profesi induk dari PPNI yang ada didaerah menghimbau dan mengingatkan bahwa sesuai Hasil RAKERNAS PPNI Tgl 28 Agustus 2011 lalu untuk tetap menjaga komitmen dan juga kontribusi dari daerah(PPNI Propinsi) untuk sama-sama mengkawal RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan secara sistematis, terukur dan sesuai harapan masyarakat.

Akhirnya RDP selanjutnya selama bulan Desember akan dilanjutkan dengan mendengar masukan dari Para Ahli diluar Profesi Keperawatan…dan bahan hasil RDP akan menjadi masukan dalam penyusunan dan pembahasan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan pada persidangan Januari 2012. Tentunya Kita Warga Perawat Indonesia dan Khususnya melalui Organisasi Profesi PPNI memang harus bersabar untuk mendapatkan perlindungan secara jelas dan baik dalam pelayanan kepada masyarakat, di tatanan aturan tertinggi yaitu UU Keperawatan.

Sumber : http://www.inna-ppni.or.id

 


Hadirilah seminar online keperawatan

Hadirilah seminar online keperawatan: Teknologi Informasi untuk Perawat: Penggunaan Informasi Tekonologi Untuk Kemajuan Keperawatan Indonesia!

Perkembangan teknologi telah memudahkan layanan dari berbagai industri, termasuk dunia kesehatan. Dengan adanya teknologi informasi yang tidak mengenal jarak, melahirkan berbagai layanan baru dalam bidang keperawatan yang juga dikenal dengan sebutan telenursing.
Telenursing yang merupakan bagian dari telehealth adalah penggunaan telekomunikasi dan teknologi informasi untuk menyediakan pelayanan keperawatan dalam layanan kesehatan dimana terdapat jarak yang cukup jauh antara pasien dan perawat ataupun interaksi dengan berbagai perawat di belahan dunia. Telenursing juga memiliki hubungan dengan aplikasi baik medis atau non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi, telemonitoring, dsb.
Di era sekarang ini, wajib bagi para perawat di Indonesia untuk mengenal lebih dekat lagi mengenai teknologi informasi agar tidak ketinggalan informasi dan kalah saing dengan perawat dari negara lain.
http://www.medicalbutler.com menghadirkan seminar online keperawatan yang akan menjelaskan mengenai teknologi informasi untuk perawat, apa dan bagaimana peran perawat dalam dunia teknologi informasi dan perkembangan telenursing pada:
Hari/tanggal: Kamis, 18 Agustus 2011
Pukul: 14.00-15.00 WIB
Bersama: Eri Yanuar Akhmad B. S., S.Kep, Ns, salah satu staf pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
Hanya dengan menyiapkan komputer/laptop, koneksi internet, headset atau speaker, maka anda telah siap mendengarkan seluruh presentasi dan dialog seminar online secara langsung, dari manapun. Anda pun dapat melayangkan pertanyaan kepada Eri Yanuar di akhir seminar online. Praktis, mudah dan yang terpenting, gratis! Tunggu apa lagi? KLIK DISINI untuk mendaftarkan diri sekarang.

Cara menghadiri webinar/seminar online:

  1. Klik link untuk mendaftar menjadi peserta webinar dan masukkan data diri pada formulir registrasi.
  2. Setelah melengkapi formulir registrasi, link pribadi akan dikirimkan ke email Anda.
  3. 30 menit sebelum webinar dimulai, klik link tersebut untuk memasuki ruang webinar dan ikuti instruksi untuk download software. Nomer ID webinar ini: 337-063-794.
  4. Setelah download berhasil, Anda akan memasuki ruang virtual webinar.
  5. Silakan ajak serta keluarga dan teman untuk menghadiri webinar!

Untuk info lebih lanjut kunjungi www.medicalbutler.com atau email ke info@medicalbutler.com


Registered Nurse?

Banyak teman-teman perawat yang belum begitu paham tentang Registered Nurse (RN)?
RN Adalah perawat yang telah diregistrasi dan secara hukum telah memiliki lisensi untuk praktek keperawatan. Registrasi dan lisensi ini diberikan oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah atau melalui undang-undang. Syarat-syarat untuk dapat diregister mengacu pada pendidikan keperawatan yang diakui.

Apakah sudah ada RN di Indonesia?
Bila merujuk pada definisi umum yang ada diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, setiap perawat yang telah memiliki SIP (surat ijin perawat) adalah RN.

Adakah syarat untuk menjadi RN?
Syarat untuk diregister di indonesia harus telah lulus pendidikan keperawatan yang diakui oleh pemerintah dan asosiasi profesi. Saat ini ada dua katagori perawat lulusan baru, yaitu lulus pendidikan Diploma III atau lulus pendidikan Ners. Kemudian calon memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti bebas dari catatan kriminal dan lulus uji kompetensi profesi.

Adakah Registered Nurse International?
Registrasi berlaku di setiap negara. Tidak ada satu lisensi untuk semua negara. Bila akan menjalankan praktek keperawatan di negara lain, proses pendaftaran (registrasi) untuk bisa menjalankan praktek (lisensi) harus dilakukan di negara tersebut, tapi dipersyaratkan bahwa mereka yang mengajukan untuk diregister di negara lain, harus memiliki register juga di negara asal. Namun beberapa negara memiliki sistem pengakuan mekanisme penapisan, sehingga untuk proses registrasi menjadi lebih mudah.

Bisakah lembaga swasta atau lembaga pelatihan menerbitkan sertifikat RN?
Lembaga swasta atau lembaga pelatihan dapat menerbitkan sertifikat kompetensi untuk kepentingan mereka sendiri (internal). Tetapi, pengakuan terhadap sertifikat tersebut mungkin tidak berlaku bagi pihak lain. Untuk itu, hati-hati terhadap lembaga yang mengatakan bisa menerbitkan sertifikat RN.

Apa peran PPNI dalam sertifikasi kompetensi?
Sebagai organisasi profesi, PPNI membuat berbagai standar kompetensi, kode etik dan juga mengembangkan berbagai instrumen uji profesi dan kompetensi. Instrumen ini diharapkan bisa menjadi penyaring agar perawat yang ter-register nanti benar-benar sesuai standar kompetensi profesi yang diharapkan.

Sumber : http://www.inna-ppni.or.id/


UU Keperawatan Solusi Masalah TKI di Kuwait

JAKARTA – Para wakil rakyat di Senayan sudah sejak lama mengetahui persoalan legalitas perawat Indonesia di luar negeri, terutama di Kuwait. Oleh sebab itu mereka sudah merumuskan landasan hukum sebagai solusi masalah tersebut.

“Kami harapkan soal itu akan diatur dalam UU Keperawatan. Sudah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas). Tapi belum dibahas,” ungkap anggota Komisi Kesehatan dan Tenaga Kerja DPR dr Karolin kepada okezone di Jakarta, Senin (19/4/2011).

Politisi PDIP itu mengungkapkan persoalan legalitas perawat Indonesia di luar negeri telah terjadi sejak lama. Namun belum ada solusinya. Para perawat tersebut tak diakui kemampuannya karena tak memiliki bukti legalitas hitam di atas putih. “Mereka dianggap asisten perawat, karena tak diakui kemampuannya,” bebernya.

Ratusan perawat asal Indonesia di Kuwait tersandung persoalan verifikasi ijazah, mereka pun dianggap sebagai perawat ilegal. Banyak di antara mereka yang sudah dinonaktifkan sebagai perawat karena ijazah mereka dinilai tak berlaku karena dikeluarkan Akademi atau Perguruan Tinggi yang tak tercatat di Pusat Diknakes Kemenkes Republik Indonesia.

“Selain itu, karena kesalahan pemerintah Indonesia dalam menjawab surat diplomatik antar negara maka perawat Indonesia terancam. Tak hanya itu, lambannya respons pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan masalah ini,” tulis pembaca okezone, Adityawarman, Senin (19/4/2011).

Dikatakannya, saat ini banyak perawat Indonesia yang dinonaktifkan, tidak digaji serta tidak bisa kembali ke Indonesia. “Kemungkinan besar para perawat tersebut juga terancam pidana karena dianggap memalsukan ijasah,” kata pembaca tersebut.

Permasalahan ijazah yang dianggap ilegal sebenarnya telah mencuat sejak awal Januari 2011. Melalui sejumlah jejaring sosial, perawat-perawat di Kuwait telah mengeluhkan permasalahan tersebut.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2011/04/19/337/447688/uu-keperawatan-solusi-masalah-tki-di-kuwait


Dua Perawat Dikriminalisasi, Salah UU?

Belum tuntas Misran, mantri perawat asal Kalimantan Timur menanti fatwa Mahkamah Konstitusi (MK) berkaitan dengan pasal dari Undang-Undang Kesehatan 2009 yang menjerat dirinya ke dalam penjara, kini Irfan Wahyudi, mantri perawat asal Situbondo, juga tersandung kasus serupa. Karena memberi pertolongan medis, Irfan ditangkap polisi.

Ledia Hanifa, anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi Kesehatan, Kependudukan, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, justru menilai kesalahan bukan pada undang-undang yang dibuat DPR.

“Persoalan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata di negeri ini, serta tidak adanya landasan yang memberi kepastian dan payung hukum bagi tenaga perawat atau mantri menjadi tanggung jawab pemerintah,” kata Ledia kepada VIVAnews.com di Jakarta, Jumat 14 Januari 2011.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu lalu menjabarkan keprihatinannya. Kalau sekadar mengacu pada Undang-Undang Kesehatan, ratusan ribu perawat atau mantri bisa terpidana. Karena, pertama, mereka dianggap tidak memiliki wewenang memberi bantuan medis langsung pada pasien.

Tetapi, di sisi lain, menolak memberi bantuan medis pada situasi kedaruratan juga bisa dipidana. Kedua, wewenang memberi bantuan medis hanya pada dokter, sedangkan faktanya di Indonesia hampir separuh Puskesmas kekurangan atau malah tidak punya dokter sama sekali.

“Ini kan seperti memakan buah simalakama. Tidak menolong pasien bisa terpidana, tapi menolong pasien juga bisa terpidana. Lantas bagaimana masyarakat kita yang jumlahnya jauh lebih banyak tinggal di perdesaan dan tempat terpencil akan mendapat haknya untuk memperoleh pelayanan kesehatan?” kata Ledia yang terpilih dari daerah pemilihan Kota Bandung dan Cimahi ini.

Karena itu, Ledia menegaskan kembali bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk segera membenahi sistem penataan tenaga kesehatan di negeri ini.

“Pendistribusian tenaga kesehatan, baik itu dokter, dokter spesialis, apoteker, perawat, bidan, dan ahli gizi, harus merata sampai ke semua pelosok negeri. Begitu juga RUU Keperawatan harus segera disahkan menjadi undang-undang,” tuturnya.

Ledia lantas menjelaskan mengapa RUU Keperawatan menjadi penting untuk segera disahkan adalah karena para perawat yang merupakan ujung tombak tenaga kesehatan yang paling banyak dan sering bersentuhan dengan pasien membutuhkan kepastian dan payung hukum saat menjalankan profesi mereka.

Adanya undang-undang akan memberikan batasan jelas pada hak dan kewajiban profesi mereka, sekaligus juga akan meningkatkan profesionalisme para perawat karena akan mengatur pula urusan mengenai keseragaman kompetensi dan sertifikasi.

“Dengan penataan sistem tenaga kesehatan yang lebih baik, pendistribusian tenaga kesehatan yang lebih merata dan pengesahan RUU Keperawatan, kita berharap tak akan muncul kriminalisasi tenaga kesehatan lain yang sesungguhnya akan merugikan masyarakat sendiri,” kata Ledia. (art)
• VIVAnews


FPKS Tidak Terima RUU Keperawatan Dibuang dari Prolegnas 2010

Fraksi PKS menyayangkan tidak masuknya RUU Keperawatan didalam Program Legislasi Nasional 2010. Demikian salah satu pendapat anggota komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Ansory Siregar saat sidang Paripurna DPR RI, Selasa (12/10).

“Sungguh aneh dan janggal bila Baleg DPR RI menerima bergitu saja usulan pimpinan Komisi IX DPR RI yang meminta bahwa RUU Keperawatan untuk diganti dengan RUU Tenaga Medis,” ungkap Ansory Siregar.

Ansory memaparkan ada kejanggalan pada proses pengajuan, Kejanggalan pertama, Berdasarkan surat pimpinan Komisi IX ke Badan Legislatif dengan nomor surat: 07/KOM.IX/MP.I/VIII/2010 tanggal 30 agustus 2010, yang isinya sebagai berikut: berdasar hasil keputusan rapat komisi IX DPR RI tgl 25 agustus 2010, telah disepakati RUU tentang Tenaga kesehatan dan RUU tentang perubahan atas UU no.39 thn 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri akan dibahas pada tahun sidang 2010 – 2011, dan menjadi RUU prioritas pada tahun 2010.

”Kenapa RUU Keperawatan tidak masuk dalam Prolegnas 2010? Padahal RUU keperawatan sejak 2009 & 2010 sudah menjadi prioritas Prolegnas dan belum dibahas oleh DPR RI dan menjadi hutang DPR RI pada masyarakat. Kenapa tiba-tiba RUU Tentang Tenaga Kesehatan (nakes) menjadi begitu penting?” tanya Ansory.

Kejanggalan kedua, surat balasan dari Baleg DPR RI bernomor 108/Baleg/DPR RI/IX/2010, tanggal 23 September 2010, Baleg menyetujui RUU Tenaga Kesehatan menjadi prioritas prolegnas 2010 dengan menggeser RUU keperawatan. Namun di surat yang sama, Baleg meminta RUU perubahan atas UU No.39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menjadi garapan Baleg DPR dan bukan menjadi garapan komisi IX DPR RI. ”Anda bayangkan sungguh aneh sekali mereka-mereka ini,” ungkap ansory.

Menurut Anggota DPR asal Sumut II ini, Baleg dan Pimpinan Komisi IX memperebutkan RUU tentang perubahan atas UU No. 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI diluar negeri.

Kejanggalan ketiga, lanjut Ansory, Baleg bersama Menteri Hukum dan HAM pada 29 september 2010 telah memutuskan penggantian 3 RUU dalam daftar Program legislasi nasional RUU prioritas tahun 2010. Pada saat itulah, RUU keperawatan yang masuk dalam No urut 18 dalam Prolegnas 2010 di ”Gusur”oleh RUU Tenaga Kesehatan.

”Tindakan Baleg kurang tepat dan tidak dapat dibenarkan, ada indikasi permainan dibelakang oleh oknum. Jelas ini melecehkan hak inisiatif anggota DPR RI, karena RUU keperawatan merupakan RUU hak inisiatif anggota DPR RI sejak periode yang lalu. Atas dasar apa Baleg bersikap demikian? Kenapa tidak terlebih dahulu dibahas dengan anggota komisi IX?” ungkap ansory dengan geram.

”Melalui rapat paripurna DPR RI, saya ungkap hal ini ke pimpinan dan meminta pimpinan untuk tidak mensahkan usulan Baleg tersebut, demi keadilan bagi masyarakat luas,” pungkas Ansory.

Munculnya RUU Tenaga Kesehatan dalam Rapat Paripurna DPR dinilai adanya ketidaktertiban anggota DPR dalam membahas RUU yang sudah diatur dalam Prolegnas.

“Itu tidak tertib,” kata Ketua MK, Mahfud MD saat ditemui wartawan di Gedung MK, Jakarta, Jumat (15/10).

Mantan anggota DPR komisi III tersebut mengatakan, pembahasan RUU seharusnya sesuai dengan Prolegnas. Jika hal tersebut mendesak harus tetap mengikuti asal memiliki empat alasan.

“Pertama, kalau Perppu, meski tidak di Prolegnas tetap harus dibahas. Kedua, karena ada perjanjian internasional yg harus diratifikasi, itu boleh masuk,” jelasnya.
Selain itu, pembahasan RUU yang tidak masuk Prolegnas harus dilihat urgensinya.

“Karena ada putusan MK yang menyebabkan adanya kekosongan hukum. Maka itu bisa, seperti dulu UU pemerintahan yang membolehkan calon independen kan tidak ada di Prolegnas tapi karena MK memutuskan harus ada maka harus dibahas. Keempat, ada kejadian yang luar biasa yang urgensinya harus diatur dalam UU,” paparnya.

Oleh karena itu, jika tidak memenuhi empat syarat tersebut, tidak dapat dibenarkan.
“Menurut Ketentuan kalau tidak masuk Prolegnas tidak boleh,” pungkasnya.

Diketahui, RUU Tenaga Kesehatan hadir dalam Rapat Paripurna yang sempat menggusur RUU Keperawatan. Akibatnya rapat tersebut gagal untuk mengesahkan revisi program legislasi nasional (prolegnas) RUU prioritas yang disusun Badan Legislasi (Baleg) DPR.

Sumber: primaironline/http://djpp.depkumham.go.id
Sumber : http://www.dpr.go.id


PERKEMBANGAN PROFESI KEPERAWATAN

 PERKEMBANGAN PROFESI KEPERAWATAN
PENDAHULUAN
Pekerjaan merawat merupakan pekerjaan yang paling tua dan merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh siklus kehidupan manusia. Sejak jaman purbakala manusia paling primitive pun telah melakukan pekerjaan perawatan / pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan tertentu.Namun tindakan mereka tidak didasari dengan filosofi dan ilmu pengetahuan keperawatan.Tindakan mereka hanya didasari naluri (instinct) dan kebiasaan-kebiasaan yang diterima secara turun temurun. Oleh karena itu apa yang mereka lakukan merupakan suatu pekerjaan bukan suatu profesi.

Perkembangan Pekerjaan Merawat :
Merawat sebagai suatu pekerjaan dilakukan oleh mereka yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal keperawatan, pekerjaan ini mengalami fase perkembangan sejalan dengan perkembangan peradaban manusia.

Fase ini terdiei dari :
1.Zaman Purbakala.
• Pada masaiti belum ada perbedaan antara perawatan dan pengobatan.
• Ajaran alam dan transmigrasi (berdasarkan naluri)
• Health provider .dukun (witch doctors).
• Meyakini bahwa penyakit adalah disebabkan oleh roh jahat.

2.Zaman Jahudi Kuno.
• Nabi Musa adalah ahli Higiene, membuat UU KesehatanBangsa Jahudi
• UU Kesehatan bangsa Jahudi mendasari higienemodren

3.Permulaan Abad Masehi (0 – 500 AD)• Pekerjaan merawat dianggap rendah dan tidak diinginkan.
• Merawat dikerjakan oleh orang-orang tua dan janda miskin.
• Pengaruh ajaran Nabi Isa :
1.Brotherly love : care for the destitute, helpless, and sick
2.Diakones dan Filatop (Phoebe,Fabiola, Marcella,Paula), melakukan
perawatan di rumah dan RS
3.Monestery, Xenodocheion, Monastic Hospital,
4.Kedokteran mulai berkembang

4.Zaman Pertengahan (500 – 1500 AD)

• Perang Salib (& kali), ikut mempengaruhi keperawatan.
• Merawat dikerjakan oleh . Ordo Religius : Monastery
Ordo Militer (Thenight hospitallers)
Ordo Sekular.
5.Zaman Baru / Renaisans (1500 – 1800 AD• Renaisanse ; perkembangan ilmu biologi dan medik, penemuan alat (L. da Vinci, A. Versalius,W. Harvey, M. Malphigi, A.van L. Hoek, santorio-santorio, A. Pare, L. Pasteur, dll).
• Reformasi :
1. M. Luther menempelkan 95 dalil di gereja Wittenberg, Jerman
2. Monesteries ditutup, pendidikan kedokteran ke universitas.
3. Era gelapbagi keperawatan, mengalami kemunduran

6. Zaman Modren (awal 1800 AD – sekarang)
• Florence Nightingale (12 Mei 182 – 13 Agustus 1910)
1. 1851 : training keperawatan di Kaiserweirth, Jerman (ditempat pelatihan milik Pastor Theodore Fliedner)
2. 1854 : bertugas di perang Krim, the Lady with the lamp.
3. 1856 : kembali ke Inggris, keperawatan : art and science
4. 1860 : mendirikan sekolah perawat pertama

PERKEMBANGAN PROFESI KEPERAWATAN

Dedikasi dan partisipasi aktif Florence Nightingale pada perang Krim dan didirikannya sekolah perawat yang pertama pada tahun 186 di RS St. Thomas London merupakan titik awal profesionalisme keperawatan di duania. Putri bangsawan Inggris yang cantik ini sejak usia sembilan tahun telah menaruh minat dan kepedulian (concern) yang tinggi terhadap keperawatan, ia berkata : I would like to be useful to sick person “ sejalan dengan penyelenggaraan sekolah yang didirikannya. Ia menulis buku-buku keperawatan yang selanjutnya banyak digunakan dalam pengembangan sekolah keperawatan dan pengembangan teori keperawatan pada era selanjutnya. Florence Nightingale disebut sebagai The founder of the modern nursing
Perkembangan profesi keperawatan selanjutnya tidak terlepas dari perkembangan pendidikan keperawatan, perkembangan profesi keperawatan dimulai dengan perkembangan pendidikan.

Perkembangan Pendidikan Keperawatan
Secara singkat perkembangan pendidikan keperawatan adalah sebagai berikut :
Perkembangan di Negara Maju (Development Countries):
- 1860 : Sekolah Perawat yang pertama di London (oleh Florence n.)
- 1909 : Pendidikan Tinggi D-3/Diploma (FK.Uni. Of Minessota, USA)
- 1919 : Pendidikan S – 1/Bachelor (di bawah pengawasan FK).
- 1923 : Pendidikan S – 1 Keperawatan Mandiri (Yale University, USA)
- 1977 : 3830 orang Master di bidang keperawatan di USA.

Perkembangan di Indonesia :
- 1945 : Sesudah kemerdekaan : Sekolah Juru Kesehatan (lulusa SR/SD), selanjutnya ditingkatkan menjadi SPR/SPK (lulusan SMP).
- 1962 : Akademi Perawatan Pertama (Depkes RI)di Jakarta (lulusan SMA).
- 1985 : Program Studi Ilmu Keperawatan di buna FKUI (lulusan Akper/SMA).
- Nov.1995 : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (mandiri)
PendidikanTinggi Keperawatan: pendidikan akademi professional.
(Akademik bertanggung jawab dalam pengembangan ilmu keperawatan,
Profesional : menghasilkan perawat terampil dalam praktek berlandaskan ilmu/teori/pengetahuankeperawatan.

Perkembangan Teori Keperawatan

Teori keperawatan dikemukakan pertama kali oleh Florence Nightingale pada pertengahan tahun 1860-an, selanjutnya dikemukakanoleh pemuka-pemuka teori keperawatan pada awal 1950-an. Mereka mengembangkan teori dan model keperawatan yang menegaskan bahwa keperawatan memerlukan pengetahuan yang berbeda dari pengetahuan kedokteran, dan oleh karena itu profesikeperawatan pun terpisah dan berbeda dari profesi kedokteran. Pada masa sekarang banyak perdebatan-perdebatan tentang teori-teori dalam keperawatan yang dikemukakan tersebut mempunyai beberapa kesamaan dan juga perbedaan dalam empat koponen esensial paradigma keperawatan, yaitu ;
• Person
• Environment
• Health
• Nursing.

Namun, tujuan akhir (ultimate goal) dari pengembangan teori yang dapat berupa model konsep / paradigma keperawatan yang akan memberi arahan kepada para ilmuwan keperawatan untuk menjadi semakin mendekati kebenaran (truth).

Evolusi perkembangan teori keperawatan dapat dilihat pada daftar berikut ;

- Philosohy : antara lain :
Florence N (1860),Hall (1960s), Abdellah (1960s-70s), Henderson (1960s, Orem (1950s-80s), Adam (1980s)
- Interpersonal Relationship: antara lain;
Peplau (1950s), Orlando (1960s), King (1970s – 80s).
- Energy field : antara lain;
Levine (1960s – 70s), Rogers (1970s-80s), Newman (1979s-80s).
- System : antara lain :
Newman (1970s – 80s), Roy (1970s-80s), Johnson (1980s)